Harga Beras SPHP Tetap, Pembelian Dibatasi
- 26 Apr 2026 13:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Bapanas pastikan harga beras SPHP tetap dan tidak mengalami kenaikan
- Pembelian beras SPHP dibatasi maksimal 25 kilogram per konsumen
- Kebijakan untuk cegah praktik pembelian berlebihan dan penjualan kembali
- Penyaluran SPHP capai hampir 100 persen hingga April 2026
- Target distribusi SPHP tahun 2026 sebesar 828 ribu ton
RRI.CO.ID, Karawang - Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, memastikan harga beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tidak mengalami kenaikan. Menurutnya, program ini tetap menjadi penyeimbang harga di pasar.
Ia menyampaikan hal itu saat inspeksi di Gudang Filial Perum Bulog Karawang, Kamis, 23 April 2026. Dalam kesempatan itu, ia mematikan kualitas beras SPHP juga disebut tetap baik.
“SPHP kita tidak naikkan. Tetap harganya seperti sekarang,” katanya dalan keterangan Yang diterima RRI, Minggu, 26 April 2026.
Meski demikian Amran menjelaskan pembelian beras SPHP tetap dibatasi maksimal 25 kilogram per konsumen. Ketentuan ini untuk mencegah praktik pembelian tidak wajar.
“Kalau tidak dibatasi bisa diborong dan dijual kembali,” katanya. Dalam aturan terbaru, masyarakat dapat membeli maksimal 5 kemasan ukuran 5 kilogram.
Selain itu tersedia kemasan 2 kilogram dengan batas maksimal 2 kemasan. Kebijakan ini, lanjutnya, tertuang dalam Keputusan Kepala Bapanas Nomor 34 Tahun 2026.
Ia juga menegaskan, beras SPHP juga dilarang untuk dijual kembali karena mengandung subsidi pemerintah. Berdasarkan Ddata Bapanas menunjukkan realisasi penyaluran SPHP terus meningkat.
Sepanjang Maret 2026 tercatat 70,01 ribu ton, sementara hingga 23 April mencapai 69,85 ribu ton atau 99,77 persen. Target penyaluran SPHP tahun ini mencapai 828 ribu ton dimana pemerintah juga menyiapkan anggaran subsidi sebesar Rp4,97 triliun.
Ia juga memastikan, stok Cadangan Beras Pemerintah dalam kondisi aman, bahkan disebut mencapai level tertinggi. Menurutnya, kondisi ini berdampak pada inflasi beras yang semakin terkendali.
Hal ini terlihat dimana dalam dua tahun terakhir, beras tidak lagi menjadi penyumbang utama inflasi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi beras semakin rendah dimana pada Maret 2026, inflasi tercatat hanya 0,65 persen.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....