Esti Nurjadin: Skema BLU Dorong Pengelolaan Museum Nasional Lebih Profesional
- 25 Apr 2026 10:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Indira Esti Nurjadin menyebut skema BLU bertujuan membuat pengelolaan museum lebih profesional, adaptif, dan tidak hanya bergantung pada anggaran pemerintah.
- BLU memberi fleksibilitas pengelolaan keuangan, sehingga museum dapat memanfaatkan pendapatan mandiri (tiket, sewa, sponsorship) dan mempercepat perbaikan fasilitas.
- Ke depan, pengelolaan BLU berpotensi dibuat lebih spesifik per institusi, sejalan dengan dukungan skema kemitraan publik-swasta yang juga didorong Fadli Zon.
RRI.CO.ID, Jakarta - Penerapan skema Badan Layanan Umum (BLU) pada museum bertujuan mendorong pengelolaan yang lebih profesional dan adaptif. Demikian disampaikan oleh Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Esti Nurjadin.
Ia mengakui, perubahan status tersebut sempat dipandang sebagai langkah yang 'mengecilkan' posisi museum nasional. Namun, jika dilihat dari semangatnya, kebijakan ini justru diarahkan untuk memperkuat tata kelola museum.
"Semangatnya adalah menjadikan museum lebih profesional dalam pengelolaan," katanya dalam Temu Media: HUT Museum Nasional Indonesia ke-248 Tahun, Museum Nasional, Jakarta Pusat, Jumat, 24 April 2026. Menurutnya, di berbagai negara, pendanaan museum tidak sepenuhnya bergantung pada pemerintah.
Ia menegaskan bahwa pengelolaan dilakukan melalui skema kemitraan antara sektor publik dan swasta. Termasuk pemasukan dari penjualan tiket, penyewaan venue, kolaborasi, hingga sponsorship.
Ia menambahkan, sebelum berstatus BLU, museum tidak memiliki fleksibilitas dalam mengelola pendapatan. Seluruh penerimaan negara bukan pajak (PNBP) harus disetorkan kembali ke kas negara, sehingga membatasi ruang gerak pengelolaan.
Dengan status BLU, museum kini memiliki keleluasaan dalam mengelola anggaran secara mandiri. Hal ini dinilai penting untuk mempercepat penanganan kebutuhan operasional, seperti perbaikan fasilitas apabila terjadi kerusakan.
"Dengan BLU, jika ada kerusakan atau kebutuhan mendesak. Kami bisa langsung melakukan perbaikan agar kunjungan masyarakat tidak terganggu," ucap Esti.
Ia mengungkapkan, BLU merupakan badan layanan umum yang mengedepankan pola pikir bisnis, namun tetap berorientasi pada pelayanan publik. Skema ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan museum tanpa menghilangkan fungsi utamanya sebagai ruang edukasi dan pelestarian budaya.
Meski demikian, ia menilai ke depan terdapat kemungkinan pengelolaan museum dilakukan secara lebih spesifik. Misalnya dengan memisahkan unit BLU untuk masing-masing institusi.
Sebelumnya, Menteri Kebudayaan, Fadli Zon berharap dapat menjalin kerja sama pendanaan museum melalui skema public-private partnership. Kerja sama ini akan melibatkan para filantropis sebagai upaya mendukung pemajuan kebudayaan di Indonesia.
Ia menjelaskan, para filantropis yang berkontribusi dalam pendanaan museum turut membantu revitalisasi berbagai candi bersejarah di Indonesia. "Ada yang membantu di dalam berbagai kegiatan, sehingga mulai terbentuklah satu kepercayaan publik," katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....