Surplus dan Tantangan Menyimpan Beras 5 Juta Ton

  • 21 Apr 2026 00:57 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Stok beras nasional melimpah hingga hampir 5 juta ton, pemerintah kini fokus atasi keterbatasan gudang penyimpanan.
  • Surplus produksi beras Indonesia 2025 dipastikan valid, didukung data BPS, USDA, dan FAO.
  • Pemerintah mulai mencari pasar ekspor untuk menekan penumpukan cadangan beras di gudang Bulog.

RRI.CO.ID, Jakarta - Ketika dunia disibukkan dengan ancaman krisis pangan akibat perubahan cuaca dan situasi keamanan, Indonesia disibukan bagaimana menyimpan beras yang melimpah. .

Badan Pangan Nasional mencatat saat ini Cadangan Beras Pemerintah (CBP) mencapai 4,9 juta ton. Sebentar lagi diperkirakan cadangan itu tembus 5 juta ton. "Insyallah Kamis depan sudah 5 juta ton," kata Kepala Badan Pangan Nasional yang juga Menteri Pertanian Amran Sulaiman di Surabaya, Minggu 19 April 2026.

Pada tahun 2023 ketika Indonesia menghadapi El Nino, cadangan beras kita baru sekitar 1,52 juta ton. Tapi kini Cadangan Beras Pemerintah bisa hampir tembus 5 juta ton? Ini berarti ada kenaikan sebesa 221,7 persen.

Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pemerintah Sam Herodian menjelaskan tingginya produksi beras didukung oleh luas panen yang mencapai 11,32 juta hektare setiap tahun. Angka ini berbeda dengan luas lahan sawah yang tercatat sekitar 7,3 juta hektare.

Menurutnya, banyak lahan sawah di Indonesia dapat ditanami hingga dua sampai tiga kali dalam setahun. Kondisi tersebut membuat total luas panen menjadi lebih besar dibandingkan luas lahan baku.

“Kita punya sawah 7,3 juta hektar. Itu bukan berarti kita akan panen segitu juga. Karena kita setahun bisa tiga kali tanam,” kata Sam.

Sam Herodian menyebut tantangan utama saat ini justru terkait kapasitas penyimpanan hasil produksi yang meningkat signifikan.

“Sekarang bukan masalah kekurangan pangannya. Justru kita kesulitan bagaimana menyimpan beras,” ujar Sam dalam diskusi di Auditorium Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Senin, 20 April 2026.

Ia menjelaskan pemerintah bahkan harus mencari pasar luar negeri untuk menampung kelebihan stok beras. Upaya tersebut dilakukan agar cadangan beras tidak menumpuk di dalam negeri.

Badan Pangan Nasional mencatat negara pengimpor beras di 2025 adalah Filipina. Manila mengimpor hingga 3,6 juta ton selama tahun 2025. Meskipun menurun 1,8 juta ton terhadap impor beras 2024, Filipina diproyeksikan menambah lagi impornya di 2026 hingga 1,8 juta ton menjadi kisaran 5,5 juta ton.

Negara pengimpor beras terbesar kedua di dunia pada 2025 adalah Vietnam. Meskipun Vietnam aktif sebagai negara eksportir beras hingga 8 juta ton di 2025, Hanoi masih harus melakukan impor beras sebanyak 3,5 juta ton di tahun lalu. Untuk tahun ini, impor beras Vietnam diperkirakan menjadi 3,9 juta ton.

Sam menegaskan, peningkatan stok dalam negeri ini sekaligus menjawab keraguan sejumlah pihak terhadap produksi beras nasional. Ia menyebut data produksi telah diverifikasi oleh berbagai lembaga kredibel.

Produksi beras nasional pada 2025 tercatat mencapai 34,7 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi sekitar 31 juta ton. Kondisi ini menunjukkan adanya surplus beras nasional yang cukup besar.

Lembaga seperti Badan Pusat Statistik (BPS), United State Department of Agriculture (USDA), hingga Badan PBB Food Food and Agriculture Organization (FAO) turut mencatat adanya surplus sekitar 3,7 juta ton. “Ini kan bukan data main-main yang, dan itu kita buktikan dengan data di lapangan,” ujar Sam.

Lalu bagaimana Bulog menyimpan jutaan ton beras itu? Bulog menerapkan beberapa teknik penyimpanan sbb:

  • Metode cocoon (penyungkupan plastik) yang kedap udara untuk menyimpan beras. Teknologi ini mampu menjaga beras tetap awet selama berbulan-bulan tanpa kutu karena menciptakan lingkungan yang tidak memungkinkan hama hidup.
  • Gudang Palet Biasa. Beras disusun di atas palet dalam gudang yang bersih, menggunakan ventilasi yang cukup untuk memastikan sirkulasi udara yang baik, dan tidak bersentuhan langsung dengan lantai untuk menghindari kelembaban.
  • Bulog melakukan pemeriksaan kualitas secara rutin (pengecekan fisik dan kutu) terhadap stok di gudang.
  • Untuk menjaga kualitas tetap optimal, DPR menyarankan penyimpanan beras di gudang maksimal enam bulan.
  • Penggunaan wadah penyimpanan yang bersih dan sesuai standar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....