Kebaya Lebih dari Busana, Simbol Kekuatan Perempuan Indonesia
- 20 Apr 2026 15:27 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kebaya dinilai bukan sekadar busana, tetapi merupakan sebuah simbol kemandirian dan kekuatan perempuan Indonesia.
- Pengakuan UNESCO membawa tanggung jawab untuk melestarikan tradisi berkebaya di masyarakat.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kebaya tidak hanya sekadar pakaian tradisional, tetapi juga menjadi simbol kekuatan dan kemandirian perempuan Indonesia. Nilai ini dianggap penting untuk kembali dipahami, terutama menjelang peringatan Hari Kartini.
Pegiat kebaya, Indiah Marsaban, mengatakan kebaya memiliki makna filosofis yang lebih dalam dari sekadar keindahan. Ia menyebut kebaya mencerminkan karakter perempuan yang mandiri dan tangguh dalam menjalani kehidupan.
“Kebaya sendiri ini sudah lama menjadi bagian penting dari identitas perempuan Indonesia. Lebih dari sekedar pakaian, kebaya ini ternyata menyimpan jejak sejarah panjang hasil pencampuran budaya Nusantara yang tumbuh dan juga berkembang lintas zaman,” ujar Indiah dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Senin 20 April 2026.
Menurutnya, pemahaman masyarakat terhadap kebaya saat ini cenderung terbatas pada sisi estetika. Padahal, kebaya juga merepresentasikan nilai sosial dan budaya yang kuat.
“Tradisi berkebaya itu sesungguhnya merupakan warisan budaya tak benda yang nilai filosofinya tinggi. Kalau kita ingin mendalami, bahwa kebaya itu tidak hanya mengenai keanggunan, kecantikan, tapi bahwa perempuan itu mandiri, memiliki kekuatan,” katanya.
Ia mencontohkan, kebaya juga dikenakan oleh perempuan pekerja seperti bakul gendong di Yogyakarta. Hal ini menunjukkan bahwa kebaya tidak selalu identik dengan kemewahan, tetapi juga melekat pada kehidupan sehari-hari.
Ia mengatakan penggunaan kebaya saat ini mulai berkurang dalam keseharian masyarakat. Padahal, tradisi berkebaya merupakan warisan budaya tak benda yang memiliki nilai tinggi.
Indiah menjelaskan, terdapat perbedaan antara 'berkebaya' dan sekadar memakai kebaya. “Berkebaya merupakan satu kesatuan antara atasan kebaya dan kain sebagai bawahan,” katanya.
Sementara itu, tren memadukan kebaya dengan jeans dinilai sebagai bentuk adaptasi modern. Namun, ia menilai hal tersebut lebih tepat disebut sebagai penggunaan blouse kebaya.
Lebih lanjut, kebaya telah diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO sejak 2024. Pengakuan ini merupakan hasil kolaborasi lima negara di kawasan Asia Tenggara.
Negara tersebut antara lain Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Pengakuan ini tidak hanya pada bentuk kebaya, tetapi juga tradisi, pengetahuan, dan keterampilan di baliknya.
Indiah menegaskan, pengakuan tersebut membawa tanggung jawab besar. Masyarakat diharapkan turut menjaga dan melestarikan tradisi berkebaya.
“Tapi ada tanggung jawab besar bahwa kita harus melestarikan. Melakukan istilah yang dipakai oleh UNESCO itu adalah safeguarding the tradition, menjaga, merawat, melestarikan tradisi itu,” ucapnya.
Ia berharap kebaya dapat kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari perempuan Indonesia. Dengan begitu, nilai budaya dan filosofi yang terkandung di dalamnya tetap terjaga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....