Warteg Tertekan Kenaikan LPG, Pelaku Usaha Putar Otak Jaga Harga

  • 20 Apr 2026 14:28 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kelangkaan LPG pasca kenaikan BBM nonsubsidi mulai menekan operasional warteg dan memicu efisiensi.
  • Pelaku warteg memilih tidak menaikkan harga, menyiasati dengan mengurangi porsi dan menjaga pelanggan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kenaikan harga dan kelangkaan LPG mulai dirasakan pelaku warteg setelah kenaikan BBM nonsubsidi. Kondisi ini memaksa mereka memutar otak agar tetap bertahan tanpa menaikkan harga.

Ketua Korda Jakarta Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara), Izzudin Zidan, menyebut dampak sudah terasa sejak pekan lalu. Kelangkaan LPG menjadi masalah utama karena hampir seluruh warteg bergantung pada gas tersebut.

“Kelangkaan pertama itu karena dari LPG, karena mahal jadi terbatas. Lalu kemudian, tentu ini akan berpengaruh kepada operasional warteg ya,” katanya dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Senin 20 April 2026.

Menurutnya, pelaku warteg kini harus melakukan efisiensi penggunaan energi. Langkah ini dilakukan agar konsumsi LPG tidak terlalu boros.

Di tengah kondisi tersebut, pelaku usaha juga mempertimbangkan berbagai strategi. Mulai dari mengurangi porsi hingga menyesuaikan menu tanpa menaikkan harga.

“Warteg harus siap-siap nih, kalau misalnya besok ternyata naik (LPG), artinya kita mesti efisiensi operasional warteg. Kita tentu harus memilih, mengurangi menu, atau kemudian menaikkan harga,” ujarnya.

Namun, Izzudin menilai menaikkan harga bukan pilihan mudah bagi warteg. Ia mencontohkan, kenaikan harga gorengan bisa membuat pelanggan keberatan.

Karena itu, menjaga pelanggan tetap menjadi prioritas utama. Pelaku warteg memilih menyesuaikan porsi agar usaha tetap berjalan.

“Pentingnya tentu kita harus efisiensi operasional, supaya kita minimal LPG tidak terlalu boros, lalu optimal kan energi. Artinya disitulah kita mesti putar otak juga, supaya tidak terdampak banget terhadap para pelaku warteg ini,” katanya.

Ia menyebut, di Jakarta saja terdapat sekitar 50 ribu warteg di bawah naungan Kowantara. Seluruhnya merasakan dampak yang sama akibat kelangkaan LPG.

Selain LPG, harga bahan lain seperti plastik kemasan juga ikut naik. Hal ini menambah beban operasional bagi pelaku usaha kecil.

Meski bahan baku masih relatif tersedia, harga cenderung fluktuatif. Kondisi ini membuat pelaku warteg semakin tertekan.

Izzudin berharap pemerintah mendengar keluhan pelaku UMKM, khususnya warteg. Ia menegaskan, sektor ini merupakan salah satu penopang ekonomi nasional.

"Kita butuh tentu ketukan dari para pelaku atau pembangku kebijakan, supaya juga dipertimbangkan lagi efeknya.Jangan sampai kemudian pelaku UMKM harus dihantam lagi dengan kenaikan LPG,” ucapnya.

Di sisi lain, ia meminta pelanggan tidak khawatir. Warteg akan tetap menjaga harga agar tetap terjangkau dan mengenyangkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....