Rupiah Dibuka 'Rebound', Ditopang Naiknya Harga BBM Non-Subsidi

  • 20 Apr 2026 10:17 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nilai tukar rupiah menguat tethadap dolar AS dalam pembukaan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka naik 0,10 persen atau 18 poin menjadi Rp 17.171 per dolar AS
  • Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS menyusul langkah pemerintah menaikkan harga BBM non-subsidi," kata Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong
  • Meski demikian, faktor eksternal masih membayangi pergerakan rupiah terhadap dolar AS. Ketidakpastian seputar status selat Hormuz membatasi penguatan rupiah

RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah menguat tethadap dolar AS dalam pembukaan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka naik 0,10 persen atau 18 poin menjadi Rp 17.171 per dolar AS.

Pada penutupan perdagangan Jumat kemarin, rupiah berada di posisi Rp17.188 per dolar AS. Nilai tukar rupiah melemah 0,29 persen atau 50 poin.

Rupiah yang menguat dalam pembukaan perdagangan hari ini, sesuai perkiraan para analis. "Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS menyusul langkah pemerintah menaikkan harga BBM non-subsidi," kata Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, Senin, 20 April 2026.

Lukman menyebut, kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM oleh pasar dianggap dapat mengurangi beban APBN. Meski demikian, faktor eksternal masih membayangi pergerakan rupiah terhadap dolar AS.

"Ketidakpastian seputar status selat Hormuz membatasi penguatan rupiah. Investor juga masih cenderung wait and see hasil perundingan AS-Iran pada hari Senin ini," ujar Lukman.

Di sisi lain, pelaku pasar juga menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur BI pada Rabu, 22 April 2026. Lukman memperkirakan rupiah hari ini akan bergerak di rentang Rp17.100-Rp17.250 per dolar AS.

Sementara itu, Ekonom Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menyorot pelemahan rupiah akhir pekan kemarin. Menurutnya, rupiah menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk sepanjang April 2026.

Menurutnya, pelemahan hari Jumat kemarin cukup mencolok, mengingat indeks dolar AS yang cenderung stabil di kisaran 98. Indeks dolar AS bahkan menunjukkan tren pelemahan dalam beberapa hari terakhir.

"Menurut kami, kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah semakin merefleksikan kenaikan premi risiko spesifik Indonesia. Bukan semata-mata penguatan dolar AS secara 'broad-based'," ucap Rully.

Sinyal positif dari S&P yang mempertahankan peringkat BBB dengan outlook stabil, belum mampu mendorong apresiasi rupiah secara berarti. Di saat yang sama, mata uang utama seperti euro dan pound sterling, tambah Rully, menguat tajam sepanjang April.

Euro menguat sekitar 9,1 persen dan pound sterling menguat 7,7 persen. "Sehingga kami menilai nilai tukar rupiah masih akan menjadi sumber utama volatilitas bagi pasar keuangan domestik dalam jangka pendek," ujar Rully menutup analisisnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....