Harga Plastik Melonjak, DPR Harapkan Pemerintah Manfaatkan Singkong-Rumput Laut
- 20 Apr 2026 09:28 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Komisi VII DPR RI buka suara, terkait melonjaknya harga bahan baku plastik akibat konflik Timur Tengah
- Ini bukan hanya soal efisiensi biaya produksi UMKM, tapi juga soal kedaulatan ekonomi
- Ini momentum untuk hilirisasi komoditas lokal
RRI.CO.ID, Jakarta - Komisi VII DPR RI buka suara, terkait melonjaknya harga bahan baku plastik akibat konflik Timur Tengah. Pemerintah Indonesia, diharapkannya, dapat memanfaatkan singkong dan rumput laut untuk menekan ketergantungan impor plastik.
Pernyataan tegas ini, diungkapkan oleh Anggota Komisi VII DPR RI Gandung Pardiman. Dengan memanfaatkan Singkong dan Rumput Laut, hal ini dapat menguntungkan petani dan nelayan lokal Tanah Air.
“Ini bukan hanya soal efisiensi biaya produksi UMKM, tapi juga soal kedaulatan ekonomi. Kenapa kita impor plastik mahal kalau rumput laut dan singkong kita melimpah?" kata politikus Golkar ini dalam keterangan persnya, di Jakarta, Senin, 20 April 2026.
Sebagai alternatif bahan baku plastik, Gandung mengingatkan, Indonesia sebagai produsen rumput laut terbesar kedua di dunia. Sekaligus, Indonesia juga penghasil singkong utama dan dapat menjadi pemain utama bioplastik.
Ia menyoroti, harga biji plastik impor saat ini menyentuh Rp28.000 sampai Rp35.000 per kilogram. Padahal, menurut Gandung, bahan baku lokal bisa ditekan lebih murah dengan nilai tambah untuk petani.
“Ini momentum untuk hilirisasi komoditas lokal. UMKM kemasan, kuliner, dan retail bisa beralih ke bioplastik singkong atau rumput laut," ucap Gandung.
Ke depannya, ia mengharapkan, pemerintah perlu turun gunung dengan insentif. Yakni, memberikan bantuan mesin, pelatihan, dan jaminan pasar terkait singkong dan rumput laut ini.
"Kementerian UMKM harus berkolaborasi dengan Kementerian Perindustrian dan BRIN untuk mempercepat riset. Standardisasi dan sertifikasi produk bioplastik lokal agar bisa bersaing secara kualitas dan harga," ujar Gandung.
Sebelumnya diberitakan, Menteri UMKM, Maman Abdurrahman mengungkapkan, rumput laut dan singkong sebagai alternatif bahan baku plastik. Opsi ini disiapkan untuk merespons kelangkaan dan kenaikan harga plastik.
Maman mengatakan, bahan baku nabati menjadi solusi jangka panjang di tengah gangguan pasokan global. “Rumput laut, singkong, baru dua itu saja yang bisa dipakai untuk plastik ini,” kata Maman, saat ditemui di Kompleks Smesco Indonesia, Jakarta, Kamis, 9 April 2026.
Maman menyoroti, kelangkaan bahan baku plastik yang dipicu terhentinya pasokan nafta. Bahan baku berbasis minyak bumi itu banyak dipasok dari Asia Barat yang terdampak konflik
“Dari nafta yang kita impor dari luar. Kita ganti jadi produk-produk yang di Indonesia sudah cukup banyak,” ujar Maman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....