Pemerintah Komitmen Jaga Stabilitas Pasokan Plastik Nasional
- 17 Apr 2026 19:39 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemerintah Komitmen Jaga Stabilitas Pasokan Plastik Nasional
- Jaga Stabilitas Pasokan Plastik Nasional
RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah terus memantau perkembangan dinamika geopolitik global, termasuk situasi di kawasan Selat Hormuz. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu rantai pasok petrokimia nasional.
Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Kementerian Perindustrian mempertemukan pelaku industri hulu hingga hilir. Pertemuan ini membahas kondisi terkini dan langkah mitigasi bersama.
Dari pertemuan tersebut terungkap optimisme industri terhadap ketersediaan stok plastik di dalam negeri. “Dari hasil pertemuan, kami mendapatkan jaminan dari industri bahwa stok plastik seharusnya tidak ada masalah," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, di Jakarta, Kamis 16 April 2026.
"Saya garisbawahi kata seharusnya. Karena pemerintah tetap akan terus memantau perkembangan situasi global secara cermat yang berdampak terhadap produksi dan stok subsektor ini.”
Selain itu, industri yang hadir juga menyatakan komitmennya untuk menjaga kesinambungan suplai plastik. Khususnya bagi pelaku industri kecil, agar produk-produk mereka tetap kompetitif di pasar.
Kemenperin memahami gejolak geopolitik di Selat Hormuz telah menyebabkan distorsi pada struktur harga produk plastik didalam negeri. Penyesuaian harga dimungkinkan terjadi akibat kenaikan biaya logistik dan freight pelabuhan, pengenaan surcharge premium serta terganggunya waktu pengiriman bahan baku dari luar negeri.
“Waktu pengiriman yang sebelumnya rata-rata sekitar 15 hari, saat ini dapat meningkat hingga 50 hari. Kondisi ini tentu berdampak pada peningkatan beban biaya produksi” ujar Agus.
Lebih lanjut, Agus menegaskan situasi global saat ini menjadi pelajaran penting untuk semakin memperkuat kemandirian industri petrokimia nasional. Terutama dari sisi penyediaan bahan baku dalam negeri.
“Peristiwa ini semakin menegaskan pentingnya membangun industri petrokimia nasional yang kuat dan mandiri. Agar ketergantungan terhadap bahan baku impor dapat terus dikurangi,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut juga terungkap bahwa investor berharap agar subsektor industri petrokimia semakin menarik bagi penanaman modal baru. Salah satu faktor penting yang dinilai perlu diperkuat adalah perlindungan pasar domestik dari gempuran produk impor.
Pemerintah, lanjut Agus, akan terus mengupayakan pemenuhan kebutuhan bahan baku nasional dengan tetap menjaga keseimbangan antara kebutuhan sektor energi. Termasuk bahan bakar kendaraan bermotor, dan kebutuhan bahan baku industri petrokimia.
Dalam pertemuan juga terungkap potensi pengembangan bahan baku substitusi nafta dari sumber alternatif domestik, antara lain crude palm oil (CPO). Meski dari sisi harga masih relatif tinggi, opsi tersebut dinilai layak untuk terus dieksplorasi.
Sebagai bagian dari strategi diversifikasi bahan baku. Dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.
“Kita harus melihat seluruh potensi sumber daya nasional yang bisa menjadi alternatif bahan baku industri petrokimia, termasuk CPO. Meskipun tantangan keekonomiannya masih perlu dihitung secara matang,” ucap Agus.
Menutup keterangannya, Menperin menyampaikan dalam kondisi geopolitik saat ini, persaingan memperoleh bahan baku petrokimia antarnegara diperkirakan akan semakin ketat. Karena itu, pelaku industri mengusulkan agar Indonesia dapat mengakses bahan baku yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga meningkatkan daya saing perusahaan dan daya saing produknya.
“Kemenperin akan terus hadir bersama pelaku industri dalam menjaga ketahanan sektor manufaktur nasional menghadapi dinamika global,” ujarnya.
Adapun dalam pertemuan tersebut hadir berbagai asosiasi dan pelaku industri plastik nasional. Di antaranya Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (INAPLAS), PT Chandra Asri Petrochemical.
Hadir PT Lotte Chemical Indonesia, PT Asahimas Chemical, PT Polytama Propindo, PT Polyplex Films Indonesia. Lalu PT Kofuku Plastic Indonesia, Indorama Group, PT Trinseo Materials Indonesia, dan PT Lotte Chemical Titan Nusantara.
Selain itu hadir pula Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), PT Astina Indah Abadi, dan PT Bumi Lestari Unggul. Turut bergabung PT Selamat Anugrah Indonesia, PT Pelita Mekar Semesta, Indonesian Plastics Recyclers (IPR), serta GIATPI.
Hadir juga AEIXIPINDO, Asosiasi Industri Kemasan Fleksibel Indonesia (Rotokemas), PT Supernova Flexible Packaging, dan Asosiasi Plastik Akal Sehat Indonesia (PASTI). Selain itu terdapat Asosiasi Biaxially Oriented Films Indonesia (ABOFI), PT Indopoly, serta Asosiasi Industri Plastik Hilir Indonesia (APHINDO).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....