Ketua DPR: Harga Plastik Mahal Jadi Momentum Beralih ke Bahan Alami

  • 17 Apr 2026 10:36 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Puan Maharani menilai kenaikan harga plastik sebagai momentum beralih ke kemasan ramah lingkungan.
  • Lonjakan harga hingga 80 persen memberatkan UMKM dan mendorong penggunaan bahan alami seperti daun.
  • Penggunaan kemasan organik dinilai mendukung ekonomi hijau, nilai tambah produk, dan pengurangan limbah plastik.

RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua DPR RI Puan Maharani menganggap kenaikan harga plastik sebagai peluang. Ia mendorong masyarakat untuk menggunakan kembali kemasan tradisional yang berasal dari bahan-bahan organik yang ramah lingkungan.

Puan menilai beban ekologi penggunaan plastik sangat tinggi meski bahan tersebut memberikan kesan praktis setiap hari. Menurutnya, lonjakan harga plastik saat ini merupakan waktu yang tepat untuk memulai transisi menuju ekonomi hijau nasional.

“Meskipun plastik dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari karena kepraktisannya, kita ketahui bersama beban ekologinya sangat tinggi. Maka kenaikan harga plastik bisa menjadi momentum untuk kita beralih ke ekonomi hijau,” kata Puan di Jakarta, Rabu, 15 Apriil 2026.

Harga plastik di tanah air dilaporkan melonjak drastis hingga angka 80 persen pada April 2026. Ketergantungan industri terhadap bahan baku impor mencapai 60 persen sehingga memicu krisis pasokan dalam negeri.

Puan menyoroti dampak kenaikan biaya tersebut yang paling menekan sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Menurutnya, pengusaha makanan dan minuman sangat kesulitan karena selama ini sangat bergantung pada kemasan plastik sekali pakai.

“Harga plastik melonjak hingga berkali-kali lipat dan pasokannya mulai sulit diperoleh. Kondisi ini menyebabkan pelaku usaha kecil yang selama ini memiliki keuntungan terbatas semakin kesulitan secara ekonomi,” kata Puan.

Ketua DPR RI tersebut menyarankan pedagang untuk memanfaatkan model kearifan lokal sekarang. Ia mengusulkan penggunaan daun sebagai alternatif utama pembungkus pangan karena harganya jauh lebih terjangkau bagi pelaku usaha.

“Di pendahulu kita dulu, penggunaan kemasan dari bahan alami seperti daun menjadi alternatif utama. Pedagang makanan atau pangan bisa kembali memanfaatkan kemasan ramah lingkungan seperti itu,” ucap Puan.

Penggunaan daun jati atau daun pisang terbukti efektif dalam menjaga kesegaran serta aroma harum pada makanan. Pemakaian bahan organik dapat meningkatkan nilai jual produk karena memberikan kesan unik dan menarik bagi konsumen.

“Dengan memakai kemasan dari bahan organik, pelaku usaha tak hanya bisa menghindari tekanan ekonomi karena tingginya bahan baku dari impor. Tetapi juga bisa menambah nilai jual,” ujar Puan.

Puan menegaskan bahwa penggunaan bahan alami sangat mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Menurutnya, pengelolaan limbah organik jauh lebih mudah serta dapat mendukung kelestarian ekosistem bumi secara jangka panjang.

“Kemasan organik yang sarat terhadap kearifan lokal juga merupakan inovasi ekonomi kreatif. Selain mendukung warisan budaya Indonesia, kita juga turut mengkampanyekan gerakan ramah lingkungan,” ujar Puan.

Lanjutnya, sampah plastik dunia saat ini sudah mencemari ekosistem perairan hingga mencapai puluhan juta ton setiap tahun. Puan mengajak semua pihak mencari alternatif kemasan lain guna mengurangi beban limbah yang merusak kemampuan adaptasi alam.

“Jadi semangat kita di sini adalah, selagi harga plastik sedang tinggi harganya, kita bisa mencari alternatif penggunaan kemasan lain. Yang sekaligus mengurangi sampah plastik,” ucap Puan.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) ini meminta pemerintah mendukung proses transisi tersebut. Lanjutnya, kementerian terkait harus berkolaborasi menyiapkan sistem regulasi serta sosialisasi masif mengenai penggunaan kemasan tradisional alternatif.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....