Mengulas Sejarah Hari Peringatan Konferensi Asia Afrika

  • 18 Apr 2026 11:29 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • 18 April diperingati sebagai Hari Konferensi Asia Afrika
  • KAA 1955 di Bandung diikuti 29 negara Asia dan Afrika
  • Konferensi melahirkan Dasasila Bandung sebagai prinsip perdamaian dunia

RRI.CO.ID, Jakarta – Tanggal 18 April diperingati sebagai Hari Konferensi Asia Afrika yang menjadi tonggak sejarah dunia. Momentum ini menandai lahirnya semangat persatuan negara Asia dan Afrika dalam melawan kolonialisme global.

Melansir laman resmi Museum Konferensi Asia Afrika, peringatan ini merujuk pada pelaksanaan Konferensi Asia-Afrika pada 18 hingga 24 April 1955 di Bandung. Pertemuan tersebut diikuti 29 negara yang mewakili lebih dari setengah populasi dunia saat itu.

Latar Belakang

Berakhirnya Perang Dunia II pada Agustus 1945 tidak langsung menciptakan stabilitas global yang merata. Konflik masih terjadi di berbagai wilayah dan memunculkan persoalan baru dalam hubungan internasional.

Penjajahan yang berlangsung sejak abad ke-15 masih menjadi persoalan utama di Asia dan Afrika. Setelah 1945, banyak negara Asia merdeka, tetapi perjuangan di Afrika masih berlangsung di beberapa wilayah.

Negara yang telah merdeka juga menghadapi sengketa wilayah dan konflik internal akibat warisan kolonial. Situasi semakin rumit dengan munculnya Blok Barat dan Blok Timur dalam Perang Dingin.

Perlombaan senjata nuklir menambah kekhawatiran dunia di tengah ketegangan global saat itu. Perserikatan Bangsa-Bangsa dinilai belum mampu menjadi penengah konflik secara efektif.

Gagasan dan Persiapan

Dari situasi tersebut muncul gagasan mempertemukan negara Asia dan Afrika dalam satu forum bersama. Gagasan ini dibahas dalam Konferensi Kolombo pada April 1954 oleh beberapa negara Asia.

Dalam forum tersebut, Indonesia mengusulkan penyelenggaraan konferensi yang lebih luas bagi negara berkembang. Usulan ini didorong oleh Presiden Soekarno melalui Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo.

Sebagai langkah awal, Indonesia menggelar pertemuan di Wisma Tugu, Puncak, pada Maret 1954. Pertemuan ini membahas rumusan yang akan diajukan dalam Konferensi Kolombo.

Dalam Konferensi Kolombo, usulan Indonesia mendapat respons positif dari negara Asia dan Afrika. Sebagian besar negara mendukung Indonesia sebagai tuan rumah konferensi internasional tersebut.

Konferensi Bogor

Langkah berikutnya adalah Konferensi Bogor pada Desember 1954 yang dihadiri lima negara peserta. Negara tersebut meliputi Indonesia, India, Pakistan, Ceylon, dan Birma.

Konferensi ini menghasilkan kesepakatan mengenai tujuan, agenda, dan daftar negara yang akan diundang. Selain itu, forum ini menegaskan konferensi harus segera dilaksanakan.

Indonesia kemudian membentuk sekretariat bersama yang dipimpin oleh Roeslan Abdulgani untuk persiapan teknis. Bandung ditetapkan sebagai lokasi pelaksanaan konferensi internasional tersebut.

Pelaksanaan Konferensi

Konferensi Asia Afrika berlangsung pada 18 hingga 24 April 1955 di Bandung, Indonesia. Sebanyak 29 negara hadir dan mewakili lebih dari setengah populasi dunia saat itu.

Fokus utama pertemuan adalah membangun kerja sama ekonomi dan budaya antarnegara Asia dan Afrika. Selain itu, konferensi juga menegaskan penolakan terhadap kolonialisme di berbagai wilayah.

Pertemuan ini menjadi ruang bagi negara berkembang memperkuat posisi dalam hubungan internasional global. Hasilnya dituangkan dalam komunike akhir yang menekankan kerja sama teknis antarnegara.

Kerja sama tersebut meliputi pertukaran tenaga ahli, pengembangan teknologi, dan pembentukan lembaga pendidikan. Hal ini menjadi dasar penguatan hubungan antarnegara peserta konferensi.

Dasasila Bandung

Salah satu hasil penting Konferensi Asia Afrika adalah lahirnya Dasasila Bandung pada 24 April 1955. Prinsip ini menjadi pedoman dalam hubungan internasional bagi negara peserta konferensi.

Dasasila Bandung menegaskan pentingnya saling menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara. Selain itu, prinsip ini menekankan penyelesaian konflik secara damai tanpa kekerasan.

Rumusan ini menjadi sikap kolektif negara Asia dan Afrika dalam menolak kolonialisme global. Dasasila Bandung juga menolak intervensi asing serta dominasi kekuatan besar dunia.

Makna Peringatan

Peringatan 18 April menjadi refleksi penting atas nilai solidaritas dan kerja sama global. Semangat Konferensi Asia Afrika tetap relevan dalam menghadapi tantangan dunia modern saat ini.

Nilai-nilai Dasasila Bandung diharapkan terus menjadi pedoman dalam menjaga perdamaian dunia. Peringatan ini mengingatkan pentingnya peran negara berkembang dalam tatanan global.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....