Helikopter Jatuh di Sekadau Kalbar, Satu WN Malaysia Tewas
- 17 Apr 2026 14:18 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Delapan korban helikopter PK-CFX ditemukan meninggal dunia, namun tiga di antaranya masih belum dievakuasi karena terjepit bangkai pesawat.
- Kondisi cuaca saat kejadian dilaporkan cerah, sehingga dugaan penyebab mengarah pada faktor teknis atau perawatan pesawat.
- Analisis awal menunjukkan helikopter tidak jatuh bebas, melainkan sempat berusaha mendarat, mengindikasikan masalah mekanis pada rotor atau sistem penggerak.
RRI.CO.ID, Jakarta - Seluruh korban dari helikopter PK-CFX milik PT Matthew Air yang jatuh telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Helikopter tersebut diketahui jatuh di wilayah Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.
Dari total delapan korban, masih ada tiga yang belum dievakuasi karena dalam kondisi terjepit di bangkai helikopter. Demikian disampaikan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kemenhub, Lukman F Laisa.
Ia mengatakan bahwa salah korban merupakan warna negara Malaysia. "Helikopter tersebut diawaki oleh orang pilot, yaitu Capt. Marindra Wibowo dan engineer Harun Arasyid serta enam penumpang," katanya dalam keterangan resmi yang diterima RRI, Jumat, 17 April 2026.
Selain itu, dia mengatakan bahwa pemerintah akan terus berkoordinasi dengan Basarnas. Serta pihak terkait setempat guna proses evakuasi dan penanganan lebih lanjut di lokasi kejadian.
Pengamat Transportasi Udara Kalimantan Barat, Syarif Usmulyani Alqadrie mengatakan faktor mekanis atau perawatan pesawat diduga menjadi penyebab kecelakaan. Selain itu, ada juga faktor cuaca yang bisa dijadikan penyebab dari kecelakaan helikopter Airbus H130 PK-CFX.
"Dari lima faktor, faktor cuaca bisa dikesampingkan karena berdasarkan rekaman dan kesaksian di lokasi kejadian. Kondisi cuaca saat helikopter jatuh dilaporkan cerah dan tidak terjadi hujan maupun gangguan cuaca ekstrem," ucapnya.
Ia mengatakan, dalam dunia penerbangan terdapat lima faktor utama yang umumnya menjadi penyebab kecelakaan. Faktor tersebut meliputi faktor manusia, cuaca, gangguan atmosfer, kondisi landasan, serta faktor mechanical maintenance.
Ia menjelaskan, kecelakaan helikopter tersebut diketahui terjadi setelah berangkat dari Melawi menuju Kubu Raya sekitar pukul 08.34 WIB. Dan sempat melakukan komunikasi terakhir sebelum akhirnya dilaporkan hilang kontak sekitar pukul 10.40 WIB.
Berdasarkan analisis awal dari rekaman visual yang beredar, ia menduga adanya gangguan pada sistem utama pesawat. Khususnya pada bagian rotor utama (main rotor) yang berada di bagian tengah badan helikopter.
"Dari rekaman, posisi helikopter saat jatuh tidak langsung terjun bebas, tetapi seperti masih berusaha melakukan pendaratan. Ini mengindikasikan kemungkinan adanya masalah pada sistem mekanikal, khususnya rotor utama atau sistem penggeraknya," ujarnya, menjelaskan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....