DPR Ingatkan Penggunaan Kemasan Organik Bantu Agenda Pembangunan Berkelanjutan
- 16 Apr 2026 11:27 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ketua DPR RI, Puan Maharani mengingatkan, penggunaan kemasan berbahan organik dapat membantu agenda SDGs (pembangunan berkelanjutan)
- Kemasan organik yang sarat terhadap kearifan lokal juga merupakan inovasi ekonomi kreatif
- Kemasan organik yang sarat terhadap kearifan lokal juga merupakan inovasi ekonomi kreatif
RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua DPR RI, Puan Maharani mengingatkan, penggunaan kemasan berbahan organik dapat membantu agenda SDGs (pembangunan berkelanjutan). khususnya, dalam hal pengelolaan limbah untuk mendukung kelestarian bumi.
“Kemasan organik yang sarat terhadap kearifan lokal juga merupakan inovasi ekonomi kreatif. Selain mendukung warisan budaya Indonesia, kita juga turut mengkampanyekan gerakan ramah lingkungan,” kata Ketua DPP PDIP ini dalam keterangan persnya, di Jakarta, Kamis, 16 April 2026.
Ke depannya, ia meminta, kementerian/lembaga terkait menyiapkan sistem yang matang, regulasi, sekaligus sosialisasi yang masif. Apabila, penggunaan kemasan tradisional yang berbahan organik kembali dihidupkan.
“Apabila sistemnya mendukung. Yakin bukan tidak mungkin bahan organik bisa menggantikan kemasan plastik sekali pakai,” ucap Puan.
Sejumlah kementerian seperti Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Ekonomi Kreatif, menurut dia, perlu berkolaborasi. Yakni, berkolaborasi mencari solusi kemasan alternatif pengganti plastik bagi pelaku usaha.
“Pemerintah perlu memberikan dukungan dan memfasilitasi kebutuhan masyarakat terhadap alternatif kemasan, khususnya bagi para pelaku usaha dan konsumen. DPR akan ikut melakukan pengawasan sesuai tugas dan kewenangan dewan,” ujar Puan.
Kemudian, ia mencontohkan, kemasan daun pisang atau daun jati masih banyak ditemukan di sejumlah daerah. Misalnya, di Jawa Tengah, banyak penjual nasi liwet, gudeg atau mi lethek menggunakan daun untuk pembungkusnya.
“Dengan memakai kemasan dari bahan organik, pelaku usaha tak hanya bisa menghindari tekanan ekonomi. Karena tingginya bahan baku dari impor, tapi juga bisa menambah nilai jual,” ucap Puan.
Kenaikan harga plastik hingga 70 persen akibat konflik di Timur Tengah dinilai dapat menjadi momentum strategis. Yakni, momentum untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Kondisi ini berpotensi mendorong perubahan perilaku masyarakat ke arah yang lebih ramah lingkungan. Project Manager Zero Waste Cities ECOTON sekaligus penggiat zero waste, Tonis Afrianto, menyambut positif dampak tersebut dari sisi lingkungan.
Ia menilai kenaikan harga plastik bisa menjadi pemicu pembatasan konsumsi plastik secara alami. “Kami sangat menyambut baik dampak yang ditimbulkan, karena ada keuntungan bagi lingkungan hidup,” ujarnya, Rabu, 15 April 2026.
Menurutnya, selama ini plastik sekali pakai sangat mudah diakses karena harganya murah. Kondisi tersebut membuat masyarakat cenderung menggunakannya secara berlebihan tanpa kontrol.
“Selama ini plastik sangat murah dan tidak ada biaya cukai. Sehingga masyarakat bebas mengkonsumsi,” ucapnya.
Dengan kenaikan harga di tingkat global, masyarakat diharapkan mulai mempertimbangkan kembali penggunaan plastik. Perubahan ini dinilai dapat menciptakan perilaku baru yang lebih bijak dalam konsumsi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....