Taruna Ikrar Raih Anugerah Kepemimpinan Visioner 2026 dari GP Farmasi Indonesia

  • 16 Apr 2026 01:37 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, menerima penghargaan bergengsi dari Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GP Farmasi Indonesia).
  • Taruna Ikrar menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh jajaran BPOM erta kolaborasi erat dengan industri, akademisi, dan pemerintah.

RRI.CI.ID, Jakarta - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, menerima penghargaan bergengsi dari Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GP Farmasi Indonesia). Yakni, berupa “Anugerah Kepemimpinan Visioner Pengawasan Obat dan Makanan 2026.”

Penghargaan ini diberikan sebagai apresiasi atas kepemimpinan strategis dan transformasional Taruna Ikrad. Khususnya, dalam memperkuat sistem pengawasan obat dan makanan nasional di tengah dinamika global yang semakin kompleks.

Penghargaan diserahkan usai forum diskusi strategis GP Farmasi Indonesia yang secara khusus membahas kenaikan harga obat di tengah gejolak global. Isu yang dibahas meliputi tekanan geopolitik, gangguan rantai pasok bahan baku farmasi, hingga fluktuasi biaya logistik internasional.

Momentum ini sekaligus menegaskan relevansi peran BPOM dalam merespons tantangan krusial yang dihadapi industri farmasi dan masyarakat.

Forum tersebut dihadiri pelaku industri farmasi, pemangku kepentingan kesehatan, serta perwakilan pemerintah.

Pertemuan ini menjadi ruang konsolidasi nasional untuk merumuskan langkah bersama menjaga stabilitas harga dan ketersediaan obat di dalam negeri. Ketua Umum GP Farmasi Indonesia, F. Tirto Koesnadi menyampaikan, penghargaan ini merupakan pengakuan industri terhadap kepemimpinan yang mampu menjembatani kepentingan pengawasan dan keberlanjutan industri di tengah tekanan global.

“Di bawah kepemimpinan Prof. Taruna Ikrar, BPOM menunjukkan wajah baru: tegas dalam pengawasan, namun progresif dalam mendorong inovasi. Dalam situasi global penuh ketidakpastian, kepemimpinan visioner menjadi kunci menjaga keseimbangan antara akses masyarakat terhadap obat dan keberlangsungan industri,” ujarnya, Rabu 15 April 2026.

Menanggapi penghargaan tersebut, Taruna Ikrar menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh jajaran BPOM. Serta kolaborasi erat dengan industri, akademisi, dan pemerintah.

“Penghargaan ini adalah amanah. BPOM akan terus memperkuat pengawasan berbasis sains, digitalisasi sistem perizinan. Serta mendorong kemandirian farmasi nasional agar tidak rentan terhadap tekanan global," ujarnya.

"Kita tidak hanya menjaga keamanan masyarakat. Tetapi juga memastikan akses dan keterjangkauan obat bagi seluruh rakyat Indonesia,” kata Taruna menambahkan.

Ia juga menyoroti dampak dinamika geopolitik global terhadap sektor kesehatan. Termasuk ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang memengaruhi rantai pasok farmasi dunia.

Gangguan distribusi strategis serta kenaikan biaya energi dan logistik disebut berkontribusi pada meningkatnya harga bahan baku obat. Sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga obat di berbagai negara.

“Geopolitik hari ini berdampak langsung pada sektor kesehatan. Karena itu, Indonesia harus memperkuat ketahanan nasional di bidang farmasi, termasuk melalui hilirisasi bahan baku obat dan penguatan industri dalam negeri,” katanya.

Di bawah kepemimpinannya, BPOM mencatat sejumlah capaian strategis. Termasuk keberhasilan meraih status WHO Listed Authority (WLA) yang menempatkan Indonesia sejajar dengan otoritas pengawas obat negara maju.

Status ini menjadi “paspor global” bagi produk farmasi Indonesia untuk menembus pasar internasional. BPOM terus mendorong transformasi digital, memperkuat pengawasan rantai pasok obat dan makanan, serta menjaga keseimbangan antara perlindungan masyarakat dan pertumbuhan industri nasional.

Anugerah ini semakin menegaskan posisi BPOM sebagai institusi strategis negara yang tidak hanya menjaga keamanan dan mutu produk. Tetapi juga berperan sebagai motor penggerak ekonomi nasional dengan potensi sektor yang diawasi mencapai ribuan triliun rupiah.

Ke depan, BPOM bersama GP Farmasi Indonesia berkomitmen memperkuat kolaborasi dalam pengembangan industri farmasi berbasis riset dan inovasi. Sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global menuju visi besar Indonesia Emas 2045.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....