Kakorlantas: Kolaborasi dan Teknologi Jadi Strategi Sukses Operasi Ketupat 2026

  • 14 Apr 2026 14:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kakorlantas menyebut kolaborasi dan teknologi jadi strategi sukses Operasi Ketupat 2026
  • Rekayasa lalu lintas diterapkan berbasis data melalui predictive traffic policing
  • Teknologi dan kolaborasi lintas sektor dinilai memperkuat pengelolaan arus mudik

RRI.CO.ID, Jakarta – Kakorlantas Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho menyebut kolaborasi dan teknologi menjadi strategi sukses Operasi Ketupat 2026. Menurutnya, pendekatan itu menjaga kelancaran arus mudik dan balik Lebaran tahun ini.

"Negara hadir dengan penuh kolaborasi. Sinergitas stakeholder, kesiapan personel, pos pengamanan, hingga skenario manajemen rekayasa lalu lintas menjadi kunci utama," ujarnya dikutip dari keterangan tertulis, Jakarta, Selasa, 14 April 2026.

Menurutnya, sinergi itu melibatkan Polri, Kementerian Perhubungan, Jasa Marga, serta berbagai instansi terkait lainnya. Kolaborasi tersebut menjadi faktor utama menjaga kelancaran arus mudik dan balik Lebaran.

Selain kolaborasi, penerapan predictive traffic policing dan traffic counting juga menjadi strategi penting selama operasi berlangsung. Dengan sistem itu, intervensi rekayasa lalu lintas dilakukan terukur berdasarkan data, bukan sekadar prediksi.

"Semua berbasis data, termasuk V/C ratio. Jadi keputusan di lapangan benar-benar terukur dan tepat sasaran," katanya.

Lebih lanjut, Agus menjelaskan rekayasa lalu lintas seperti contraflow dan one way diterapkan melalui parameter tertentu. Ketika volume kendaraan mencapai angka tertentu per jam, intervensi langsung dilakukan untuk mengurai kepadatan.

Operasi Ketupat merupakan operasi kemanusiaan yang mengedepankan keselamatan dan kenyamanan masyarakat. Meski kepadatan sempat terjadi, arus lalu lintas tetap dapat dikelola dengan baik," ujarnya.

Keberhasilan tersebut juga tercermin dari penurunan angka kecelakaan lalu lintas selama pelaksanaan Operasi Ketupat 2026. Fatalitas korban meninggal dunia turun sekitar 30 persen, sedangkan kejadian kecelakaan menurun sekitar 5 persen.

Namun demikian, evaluasi tetap akan dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan pada masa mudik berikutnya. Perhatian diarahkan pada partisipasi masyarakat, adaptive traffic management, dan integrasi teknologi antarlembaga.

"Kami akan terus melakukan evaluasi dari berbagai dimensi. Agar pelaksanaan mudik ke depan semakin baik, aman, dan nyaman," ucapnya.

Guru Besar STIK Albertus Wahyurudhanto menilai teknologi digital juga semakin dominan mendukung perjalanan mudik Lebaran 2026. Menurutnya, GPS, pembayaran non-tunai, dan kebijakan Work From Anywhere memengaruhi mobilitas pemudik di berbagai wilayah.

"Ini bukan kesalahan teknologi atau manusia semata. Literasi publik menjadi kunci agar teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal," ujarnya.

Lebih lanjut, Albertus menjelaskan pendekatan berbasis data ikut memperkuat pengambilan keputusan selama Operasi Ketupat 2026. Meski teknologi berperan besar, keputusan akhir tetap membutuhkan kepemimpinan dan pembacaan situasi lapangan yang tepat.

"Data menjadi sistem pendukung yang sangat penting. Namun, keputusan tetap diambil oleh manusia," katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....