Persaudaraan Bawean Nusantara Resmi Dibentuk, Siap Wujudkan Kemajuan Bawean
- 12 Apr 2026 19:02 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Persaudaraan Bawean Nusantara (PBN) diluncurkan di sela-sela Acara Halal Bihalal (HBH) Bawean Internasional 2026 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 11-12 April 2026.
- PBN akan menjadi platform perjuangan kolektif untuk mengangkat potensi Bawean ke level yang lebih tinggi.
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Persaudaraan Bawean Nusantara (PBN) resmi dibentuk di Yogyakarta, pada 11 April 2026. Peluncuran PBN dilakukan di sela-sela Acara Halal Bihalal (HBH) Bawean Internasional 2026 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 11-12 April 2026.
Pembentukan paguyuban ini dilakukan melalui semangat persatuan dan musyawarah mufakat. Melalui PBN, gelombang kebangkitan diaspora Bawean diyakini akan memperkuat kolaborasi keluarga besar warga Bawean di nuasantara.
PBN disebut akan menjadi wadah strategis untuk merajut silaturahmi. Sekaligus menata masa depan masyarakat Bawean di tingkat nasional hingga internasional.
Pembentukan paguyuban ini digagas oleh tujuh tokoh Bawean yang memiliki visi besar terhadap kemajuan daerah asal. Di antaranya, M. Yahya Zaini, Mustafa Kamal, M. Faisol, Dr. Zainun Nasihah Ghufron, M.A., Ahsanul Haq, Bahtiar Efendi, serta Akhmad Fatah Yasin (Afys).
Mereka menyatukan gagasan dalam satu forum yang menegaskan pentingnya konsolidasi kekuatan diaspora Bawean yang selama ini tersebar di berbagai wilayah. Dalam musyawarah mufakat keluarga besar Bawean internasional, Ahsanul Haq dipercaya mengemban amanah sebagai Koordinator Nasional PBN.
Penunjukan tersebut dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat arah gerak organisasi. Agar lebih terstruktur, progresif, dan berdampak nyata.
Salah satu inisiator PBN, Dr. Zainun Nasihah Ghufron, menegaskan bahwa kehadiran organisasi ini bukan sekadar bersifat seremonial. Melainkan menjadi platform perjuangan kolektif untuk mengangkat potensi Bawean ke level yang lebih tinggi.
“PBN ini lahir dari kegelisahan sekaligus harapan. Kita ingin Bawean tidak hanya dikenal sebagai daerah asal, tetapi juga sebagai kekuatan intelektual, ekonomi, dan budaya yang diperhitungkan,” kata Ainun.
Ia menambahkan, potensi besar masyarakat Bawean selama ini belum terkelola maksimal karena belum adanya wadah yang mampu mengintegrasikan berbagai elemen. PBN diharapkan menjadi jembatan penghubung antar generasi, lintas profesi, dan lintas negara.
Fokus utama PBN mencakup penguatan sektor strategis seperti pendidikan, ekonomi, hingga kepemimpinan. Di sisi lain, pelestarian tradisi, budaya, dan warisan leluhur juga menjadi pilar penting di tengah arus modernisasi.
“Jangan sampai kita maju secara ekonomi, tetapi kehilangan identitas budaya. PBN ingin memastikan keduanya berjalan beriringan,” ujar Ainun.
Pembentukan PBN menjadi sinyal kuat transformasi diaspora Bawean dari komunitas kultural menjadi kekuatan sosial yang mampu memberi kontribusi nyata. Terutama bagi pembangunan daerah dan bangsa.
Dengan jejaring yang tersebar di berbagai negara, organisasi ini berpotensi menjadi motor kolaborasi global yang membuka peluang investasi, pertukaran ilmu pengetahuan. Serta penguatan kapasitas sumber daya manusia Bawean.
Ke depan, tantangan terbesar PBN bukan hanya menjaga soliditas internal. Tetapi juga membuktikan kemampuannya menghadirkan program konkret yang menyentuh kebutuhan masyarakat Bawean, baik di tanah kelahiran maupun di perantauan.
"Jika dikelola dengan baik, PBN diharapkan tidak hanya menjadi simbol persatuan. Tetapi juga lokomotif perubahan yang membawa Bawean menuju masa depan yang lebih maju, berdaya saing, dan tetap berakar pada nilai-nilai luhur warisan leluhur," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....