Mengulas Sejarah HUT TNI Angkatan Udara Diperingati setiap 9 April
- 09 Apr 2026 09:29 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- HUT TNI AU diperingati tiap 9 April, merujuk Penetapan Pemerintah Nomor 6/SD tahun 1946
- Pada awal berdiri, Angkatan Udara bertumpu pada pesawat rampasan Jepang dan personel yang terbatas
- TNI AU terus berkembang dari masa perjuangan hingga modernisasi alutsista dan operasi kemanusiaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Tanggal 9 April diperingati sebagai Hari Ulang Tahun Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara. Peringatan ini menandai lahirnya matra udara yang berdiri mandiri sejajar dengan Angkatan Darat dan Angkatan Laut.
Melansir laman TNI, kemandirian Angkatan Udara ditegaskan melalui Penetapan Pemerintah Nomor 6/SD tanggal 9 April 1946. Ketetapan itu mengubah status Tentara Keamanan Rakyat Jawatan Penerbangan menjadi Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara.
Awal Berdiri
Perjalanan Angkatan Udara sejak awal memang terbilang unik karena proses kelahirannya berlangsung sangat singkat. Pada masa itu, kekuatan udara Indonesia masih bertumpu pada alat utama yang sederhana dan serba terbatas.
Pesawat yang digunakan kebanyakan merupakan rampasan dari tentara Jepang setelah masa perang berakhir. Jenisnya antara lain Cureng, Nishikoreng, Guntei, dan Hayabusha yang dioperasikan dengan dukungan personel terbatas.
Jumlah penerbang dan teknisi ketika itu juga masih sangat sedikit untuk menopang kekuatan udara. Meski begitu, semangat perjuangan para perintis tetap menjadi fondasi penting tumbuhnya Angkatan Udara Indonesia.
Peran Para Perintis
Dalam sejarah perjuangan bangsa, pesawat beridentitas merah putih pernah diterbangkan Agustinus Adisutjipto di awal perjuangan. Operasi udara pertama ke Semarang, Salatiga, dan Ambarawa juga menjadi bagian darma bhakti para perintis.
Selain itu, operasi lintas udara pertama di Kalimantan turut memperlihatkan peran penting kekuatan dirgantara Indonesia. Sejumlah tokoh besar kemudian tercatat ikut membesarkan Angkatan Udara sejak masa awal kemerdekaan.
Nama-nama itu antara lain Suryadi Suryadarma, Agustinus Adisutjipto, Abdulrachman Saleh, Halim Perdanakusuma, dan Iswahjudi. Mereka dikenang sebagai perintis yang ikut membangun dasar kekuatan udara nasional.
Perkembangan Alutsista
Pada dekade 1950-an, Angkatan Udara mulai diperkuat pesawat yang lebih modern untuk berbagai operasi. Kehadiran P-51 Mustang, B-25 Mitchel, dan C-47 Dakota mendorong kemampuan tempur lebih maju.
Kekuatan itu digunakan dalam berbagai operasi keamanan dalam negeri, termasuk menghadapi DI/TII, RMS, PRRI, dan Permesta. Peran tersebut menunjukkan matra udara semakin penting dalam menjaga stabilitas nasional.
Memasuki dekade 1960-an, Angkatan Udara mencapai masa kejayaan dan disegani di kawasan Asia Tenggara. Saat itu, kekuatan alutsista didukung MiG-19, MiG-21, C-130 Hercules, hingga TU-16/KS.
Namun, kekuatan tersebut menurun drastis pada awal 1970-an sebelum kembali bangkit secara bertahap di pertengahan dekade. Masuknya OV-10 Bronco, F-86 Sabre, dan T-33 Bird membawa angin segar bagi pemulihan kekuatan.
Pada dekade 1980-an, kemampuan alutsista kembali meningkat dengan hadirnya F-5E Tiger II dan Boeing 737. Kemudian, F-16 Fighting Falcon dan Hawk 100/200 semakin menambah keperkasaan matra udara Indonesia.
Peran Angkatan Udara Hingga Kini
Memasuki milenium ketiga, Angkatan Udara melengkapi teknologi barat dengan hadirnya Sukhoi SU-27 SK dan SU-30 MK. Pesawat latih dasar KT-1 Woong Bee dari Korea Selatan juga memperkuat kemampuan pembinaan penerbang.
Sejak awal berdiri, Angkatan Udara tidak hanya menjalankan Operasi Militer Perang, tetapi juga tugas kemanusiaan. Keterlibatan dalam penanganan bencana di Aceh, Yogyakarta, Pakistan, India, dan Filipina menjadi buktinya.
Melalui berbagai peran itu, TNI Angkatan Udara terus membangun diri sebagai Sayap Tanah Air. Upaya tersebut diarahkan untuk menjaga kedaulatan udara sekaligus memberi kontribusi positif bagi kesejahteraan bangsa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....