Sarang Walet Tertahan, Skema Ekspor ke Tiongkok Dimatangkan

  • 09 Apr 2026 10:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Upaya tersebut mengemuka dalam forum Indonesia–Tiongkok SME, Trade and Investment Cooperation Forum
  • Dalam forum tersebut, sejumlah komoditas unggulan Indonesia mendapat perhatian besar di pasar Tiongkok
  • Penguatan kerja sama tidak hanya berfokus pada distribusi produk, tetapi juga mencakup integrasi sistem digital

RRI.CO.ID, Jakarta - Sarang burung walet Indonesia yang sempat tertahan di bea cukai Tiongkok mendorong dimatangkannya skema ekspor ke negara tersebut. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai pasok sekaligus memperluas akses pasar produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) ke pasar global.

Upaya tersebut mengemuka dalam forum Indonesia–Tiongkok SME, Trade and Investment Cooperation Forum, Senin, 6 April 2026, Forum ini menjadi langkah strategis untuk mengintegrasikan UMKM Indonesia ke dalam ekosistem ekonomi global melalui kemitraan yang saling menguatkan.

“Kepentingan utama kita ke Tiongkok adalah membangun rantai pasok produk UMKM Indonesia. Selain itu, memperluas akses pasar di negara itu.," ujar Menteri UMKM Maman Abdurrahman, dikutip dalam laman, umkm.go.id, Kamis, 9 April 2026.

Dalam forum tersebut, sejumlah komoditas unggulan Indonesia mendapat perhatian besar di pasar Tiongkok. Antara lain, durian, manggis, buah naga, serta sarang burung walet yang telah memenuhi sekitar 70 persen kebutuhan pasar di negara tersebut.

Menurutnya, tingginya permintaan tersebut membuka peluang luas bagi pelaku usaha dan petani lokal. Kondisi ini juga mendorong peningkatan kapasitas produksi sekaligus perluasan ekspor.

Namun demikian, kendala ekspor masih menjadi tantangan, salah satunya tertahannya produk sarang burung walet di bea cukai Tiongkok. Hal ini menunjukkan perlunya penyelesaian hambatan teknis agar arus ekspor dapat kembali lancar.

“Kami telah berkomunikasi dengan otoritas terkait di Tiongkok untuk mencari solusi atas kendala tersebut. Tunjuannya, agar arus ekspor dapat kembali lancar,” katanya.

Selain itu, penguatan kerja sama tidak hanya berfokus pada distribusi produk, tetapi juga mencakup integrasi sistem digital. Langkah ini dilakukan melalui penguatan data dan digitalisasi untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok.

“Kami akan berfokus pada integrasi data dan digitalisasi melalui SAPA UMKM. Sekaligus menyiapkan SDM untuk mempelajari kebijakan pengembangan UMKM di sana,” ujar Maman.

Sebagai tindak lanjut, kedua pihak sepakat membentuk tim bersama untuk mempercepat harmonisasi persyaratan teknis. Tim ini akan mendorong penyesuaian regulasi agar produk UMKM Indonesia semakin mudah masuk ke pasar Tiongkok.

Kerja sama tersebut akan berlanjut pada tahap implementasi melalui penandatanganan nota kesepahaman dalam forum APEC UMKM pada September 2026. "Langkah ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam memperkuat posisi UMKM Indonesia di pasar internasional," ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....