Pelemahan Rupiah Berlanjut jelang Libur Panjang Akhir Pekan
- 02 Apr 2026 20:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Nilai tukar rupiah melanjutkan pelemahan terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini, rupiah ditutup turun 0,11 persen atau 19 poin menjadi Rp17.002 per dolar AS
- Sentimen pasar berbalik arah setelah mendengar pidato Presiden Trump hari ini yang menyatakan akan menyerang Iran dengan sangat keras dalam dua atau tiga minggu ke depan
- Di sisi lain, pasar menunggu data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini. Diantaranya data klaim pengangguran mingguan yang akan dirilis malam ini
RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah melanjutkan pelemahan terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Data Bloomberg menunjukkan rupiah ditutup turun 0,11 persen atau 19 poin menjadi Rp17.002 per dolar AS .
Sentimen pasar berbalik arah setelah mendengar pidato Presiden Trump hari ini. Sebelumnya pasar optimis konflik akan mereda karena Trump menyatakan akan mundur dari perangnya di Iran.
Tapi hari ini Trump melontarkan pernytaan yang bertolak belakang . “Trump mengatakan akan menyerang Iran dengan sangat keras dalam dua atau tiga minggu ke depan,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Kamis, 2 April 2026.
Trump bahkan mengatakan akan menargetkan sumber-sumber energi Iran dan membawa Iran ke zaman batu. Pernyataan itu membuat kondisi ketidakpastian makin tinggi, sehingga rupiah melemah lagi.
Di sisi lain, pasar menunggu data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini. Diantaranya data klaim pengangguran mingguan yang akan dirilis malam ini, serta data ketenagakerjaan non-pertanian dirilis hari Jumat.
Di dalam negeri, pelaku pasar masih mencermati kemungkinan defisit APBN yang melebar akibat biaya subsidi energi yang membengkak. Setiap kenaikan harga minyak satu dolar per barel membutuhkan 6 triliun rupiah biaya tambahan yang diambil dari APBN.
Pemerintah menargetkan defisit APBN sebesar 2,68 persen dari PDB dalam APBN 2026. Persentase itu setara dengan Rp689,1 triliun.
“Namun pemerintah menyatakan masih masih memiliki ruang fiskal, bahkan ketika harga minyak mencapai 100 dolar per barel. Salah satu alasannya karena harga minyak dunia masih berfluktuasi,” ujar Ibrahim.
Untuk menahan defisit APBN, pemerintah telah menetapkan sejumlah langkah untuk penghematan energi dan anggaran. Selain itu, menggunakan Saldo Anggaran Lebih (SAL) untuk menambal defisit.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....