Waspada Bencana Hidrometeorologi, Kemenag Dorong Kesadaran Kolektif Jaga Alam

  • 08 Apr 2026 16:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kemenag soroti dampak nyata krisis iklim dalam kehidupan sehari-hari
  • Ketidakseimbangan emisi karbon jadi penyebab utama bencana alam
  • BMKG imbau mitigasi terintegrasi hadapi cuaca ekstrem di Indonesia

RRI.CO.ID, Jakarta - Direktur Penais Kemenag Muchlis Hanafi menyoroti dampak nyata krisis iklim yang kini dirasakan masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyebut perubahan suhu, banjir, dan longsor sebagai bukti kerusakan lingkungan yang semakin serius terjadi.

“Kita merasakan cuaca semakin panas dan bencana alam semakin sering terjadi akibat kerusakan lingkungan. Ini bukan hanya isu global, tetapi sudah menjadi masalah nyata di sekitar kita,” ujar Muchlis dalam kegiatan Sidang Paripurna: Pemandangan Umum DPW LDII - Munas X LDII 2026, Jakarta, Rabu, 8 April 2026.

Ia menambahkan kerusakan lingkungan juga berdampak pada ketahanan pangan dan ketersediaan sumber daya alam di masa depan. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk menjaga keseimbangan alam.

“Ketidakseimbangan antara emisi karbon dan kemampuan alam menyerapnya menjadi penyebab utama krisis ini. Kita harus menjaga keseimbangan agar tidak menimbulkan bencana lebih besar,” ucap Muchlis.

Dilansir dari BMKG, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyatakan perubahan iklim meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia. Ia menilai mitigasi harus dilakukan secara terintegrasi melibatkan seluruh elemen masyarakat.

“Perubahan iklim mempercepat terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor. Kesadaran publik menjadi faktor penting dalam upaya mitigasi,” kata Dwikorita.

Muchlis berharap kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan tokoh agama dapat diperkuat dalam menghadapi krisis iklim. Ia menekankan sinergi tersebut penting untuk menciptakan upaya berkelanjutan menjaga lingkungan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....