Pemerintah Perketat Pengawasan Harga Pangan Hadapi Potensi El Nino

  • 08 Apr 2026 13:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemerintah memperketat pengawasan harga pangan menghadapi potensi El Nino
  • Pengawasan difokuskan pada komoditas strategis seperti kedelai
  • Pemerintah mengimbau pelaku usaha tidak menaikkan harga secara berlebihan
  • Koordinasi pengawasan dilakukan bersama pemerintah daerah
  • Stok beras nasional mencapai 4,6 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah
  • Stok beras diproyeksikan meningkat hingga 5 juta ton
  • Ketersediaan pangan dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga 10–11 bulan ke depan
  • BMKG memprediksi El Nino berpotensi terjadi pada semester kedua 2026

RRI.CO.ID Jakarta - Pemerintah memperketat pengawasan harga pangan di tengah potensi dampak El Nino. Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan bahan pokok.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, mengatakan pemerintah akan mengawasi harga komoditas strategis. Salah satu komoditas pangan yang diawasi adalah kedelai karena rentan terdampak gangguan pasokan global.

“Nanti kami kumpulkan para importir. Jangan menaikkan harga terlalu tinggi,” ucapnya dalam rilis resmi Kementan, Selasa 7 April 2026.

Mentan-pun mengimbau pelaku usaha menjaga stabilitas harga pangan. Menurutnya, pemerintah juga akan melakukan pemantauan dan koordinasi dengan pemerintah daerah.

Selain pengawasan harga, pemerintah memastikan ketersediaan pangan tetap aman. Terutama untuk komoditas utama seperti beras.

“Posisinya sangat aman, ukan sekadar aman, tetapi sangat aman,” ucapnya. Mentan memastikan stok beras nasional saat ini mencapai 4,6 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah.

Menurutnya, stok beras diproyeksikan meningkat hingga 5 juta ton pada April. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.

Pemerintah juga telah mengantisipasi dampak El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga enam bulan. Kebutuhan pangan selama periode tersebut dinilai masih dapat terpenuhi.

Ia menjelaskan total ketersediaan pangan, termasuk stok dan produksi, mencapai sekitar 28 juta ton. Jumlah ini cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga 10 sampai 11 bulan ke depan.

Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan potensi El Nino diperkirakan muncul pada semester kedua 2026. Ia menjelaskan El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik.

Kondisi ini dapat memicu penurunan curah hujan dan kekeringan di Indonesia. “Prediksi BMKG menunjukkan El Nino berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50 hingga 80 persen,” ucapnya.

Ia mengatakan, saat ini kondisi iklim global masih berada pada fase netral. Namun, peluang perkembangan menuju El Nino tetap perlu diwaspadai.

Menurutnya, prakiraan pada periode Maret hingga April masih memiliki tingkat ketidakpastian. Hal ini dipengaruhi fenomena spring predictability barrier yang menurunkan akurasi prediksi.

Ia menambahkan, tingkat kepercayaan prediksi akan meningkat pada Mei 2026. Prediksi tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan kondisi iklim hingga enam bulan ke depan.

BMKG memperkirakan musim kemarau 2026 akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dari normal. Kondisi ini berpotensi berdampak pada sektor pangan.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah optimistis ketahanan pangan tetap terjaga. Stabilitas harga juga diharapkan dapat dipertahankan di tengah tekanan global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....