Mentan Pastikan Stok Beras 4,6 Juta Ton Aman Hadapi El Nino Godzilla

  • 07 Apr 2026 12:59 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan stok beras 4,6 juta ton aman untuk 10-11 bulan ke depan.
  • Pemerintah menyiapkan langkah antisipasi El Nino melalui pemetaan wilayah rawan kekeringan dan optimalisasi irigasi.
  • Stok komoditas lain seperti jagung dan gula juga surplus, mendukung ketahanan pangan nasional di tengah tekanan global.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memastikan bahwa cadangan beras 4,6 juta ton aman menghadapi ancaman kemarau ekstrem. Persediaan pangan nasional tersebut sanggup memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia hingga sebelas bulan ke depan.

Amran menjelaskan bahwa jumlah cadangan beras per tanggal 7 April 2026 telah menembus angka tertinggi. Capaian tersebut diklaim sebagai rekor stok paling besar sepanjang sejarah perjalanan sektor pertanian di tanah air.

“Jadi kemarin 4,5 sekarang 4,6 juta ton, ini tertinggi sepanjang sejarah. Kondisi stok beras nasional di Indonesia dipastikan aman untuk 10 sampai 11 bulan ke depan,” ujar Amran dalam raker dan RDP dengan Menteri Pertanian/Kepala Bapanas, Menteri Kelautan dan Perikanan, Direktur Utama Perum BULOG, Direktur Utama PT PUPUK INDONESIA, dan Direktur Utama PT RNI/ID FOOD di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa, 7 April 2026.

Pemerintah memproyeksikan persediaan pangan tetap stabil meski fenomena iklim El Nino diperkirakan akan berlangsung selama enam bulan. Ia optimistis kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi walaupun ketegangan geopolitik global mulai mengganggu rantai pasok pangan dunia.

Mentan menginstruksikan seluruh kepala daerah untuk segera memetakan wilayah yang menjadi langganan kekeringan di daerah. Pihaknya juga telah menyiagakan sebanyak 171.000 unit alat mesin pertanian untuk mendukung optimalisasi irigasi sawah para petani.

“Kementerian Pertanian menginstruksikan seluruh gubernur dan bupati untuk melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan serta sistem peringatan dini. Upaya ini juga mencakup optimalisasi pengolahan air irigasi melalui rehabilitasi embung, sumur dangkal, dan sumur dalam,” kata Amran.

Amran yang juga menjabat Kepala Badan Pangan Nasional (BAPANAS) memaparkan proyeksi neraca komoditas strategis lainnya. Ia menyebutkan stok jagung nasional mengalami surplus 4,3 juta ton dan gula konsumsi tersedia sebanyak 632 ribu ton.

Pemerintah tengah menggenjot program kemandirian energi melalui implementasi bahan bakar nabati jenis B50 pada periode tahun ini. Strategi tersebut diharapkan mampu menghentikan impor solar sebanyak 5,3 juta ton guna memperkuat struktur ekonomi nasional kita.

“InsyaAllah tahun ini Indonesia tidak akan impor solar sebanyak 5,3 juta ton. Kedepan kita akan implementasikan pabrik etanol dan bahan bakunya dari ubi, tebu, dan jagung,” ujar Amran.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPR Siti Hediati Soeharto memberikan peringatan serius. Ia menilai fenomena El Nino 2026 merupakan alarm bagi stabilitas produksi pangan nasional terutama pada komoditas padi.

Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto menekankan bahwa ketahanan pangan bukan lagi sekadar persoalan teknis produksi semata sekarang. Isu strategis ini sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik internasional serta perubahan iklim dunia yang semakin ekstrem tersebut.

“Prediksi terjadinya El Nino 2026 menjadi alarm serius bagi kita semua. Pengalaman sebelumnya menunjukkan dampak signifikan terhadap penurunan produksi pangan nasional, terutama padi,” ujar Titiek.

Legislator tersebut menyoroti lonjakan harga pangan global yang dilaporkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO). Ia menyebutkan kenaikan harga mencapai 2,4 persen pada Maret akibat konflik bersenjata di wilayah Timur Tengah.

Titiek meminta pemerintah untuk waspada terhadap ketergantungan impor bahan baku pangan serta pakan ternak dari luar. Komisi IV DPR akan memaksimalkan fungsi pengawasan demi kesejahteraan seluruh petani.

“Kondisi ini tentu akan berdampak langsung terhadap biaya produksi dalam negeri, distribusi pangan hingga stabilitas harga di tingkat konsumen. Selain permasalahan produksi dan harga pangan, terdapat beberapa hal yang perlu kita cermati dan mendapat perhatian,” katanya.

Pemerintah juga terus menyalurkan bantuan pangan secara masif kepada 33,2 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di seluruh Indonesia. Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga serta menekan laju inflasi pangan yang saat ini masih terkendali.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....