Ratusan Hektare Sawah Demak Terdampak Banjir, DPR Khawatirkan Rantai Pasok Pangan

  • 08 Apr 2026 10:24 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Komisi IV DPR RI mengingatkan, penting pemerintah segera menyiapkan skema pemulihan ratusan hektare sawah
  • Pemulihan ratusan hektare sawah harus segera dilakukan, jangan sampai tidak rantai pasok pangan terganggu
  • Banjir merendam ratusan hektare sawah di Demak perlu dibaca sebagai gangguan langsung terhadap stabilitas produksi pangan di tingkat tapak

RRI.CO.ID, Jakarta - Komisi IV DPR RI mengingatkan, penting pemerintah segera menyiapkan skema pemulihan ratusan hektare sawah. Terutama, sawah-sawahnyang terdampak banjir parah di Demak, Jawa Tengah.

Pernyataan tegas ini, diungkapkan Ketua Panja Alih Fungsi Lahan Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman. Pemulihan ratusan hektare sawah harus segera dilakukan, jangan sampai tidak rantai pasok pangan terganggu.

“Banjir merendam ratusan hektare sawah di Demak perlu dibaca sebagai gangguan langsung terhadap stabilitas produksi pangan di tingkat tapak. Terutama, karena terjadi di wilayah yang selama ini menjadi bagian dari penyangga produksi pertanian Jawa Tengah,” kata Wakil Ketua Komisi IV DPR ini dalam keterangan persnya, di Jakarta, Rabu, 8 April 2026.

Kehilangan lahan produktif skala besar, menurutnya, tidak lagi dapat dipandang sebagai kerugian lokal semata. Meskipun, hal ini terjadi akibat tekanan iklim dan gangguan hidrometeorolgi yang semakin sering beririsan dengan musim tanam.

“Persoalan paling mendasar dalam fenomena banjir yang turut merendam lahan persawahan adalah belum terbangunnya sistem perlindungan produksi. Khususnya, sistem perlindungan produksi yang mampu bergerak secepat risiko datang,” ucap Alex.

Ketika sawah terendam, Alex menuturkan, hal yang hilang bukan hanya hasil tanam. Tetapi juga, modal produksi yang sudah dikeluarkan petani.

"Waktu kerja yang tidak dapat dipulihkan. Sekaligus, peluang panen yang bergeser tanpa kepastian,” ujar Alex.

Dalam banyak kasus, Alex menilai, beban terbesar justru muncul setelah banjir surut. Tepatnya, ketika petani harus memulai kembali dari titik nol dengan daya tahan ekonomi yang semakin tipis.

“Maka penting bagi Pemerintah untuk memastikan bahwa penanganan tidak berhenti pada pencatatan luas lahan terdampak. Tanpa skema pemulihan yang cepat, gangguan produksi akan lebih mudah berubah menjadi tekanan harga yang pada akhirnya dirasakan masyarakat luas," kata Alex.

Diberitakan sebelumnya, banjir besar melanda Demak dipicu oleh jebolnya tanggul serta meluapnya air Sungai Tuntang. Kejadian kelam itu, terjadi pada Jumat pagi, 3 April 2026.

Banjir tersebut, merendam permukiman, fasilitas umum, hingga lahan pertanian. Tanggul yang jebol tercatat berada di beberapa titik, dengan panjang sekitar 30 meter 10 meteran, dan 15 meter.

Banjir juga menyebabkan satu orang anak berusia 8 tahun, warga, Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur, meninggal dunia. Korban disebut hanyut terbawa arus banjir saat tanggul Sungai Tuntang jebol pada Jumat siang.

Berdasarkan kaji cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Demak, banjir merendam delapan desa di empat kecamatan. Data sementara hingga Sabtu, 4 April 2026, mencatat sebanyak 2.839 warga harus mengungsi akibat bencana tersebut.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....