Ancaman Kebakaran Hutan Meningkat Tahun Ini karena Kemarau Panjang
- 06 Apr 2026 19:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Kehutanan mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2026 akan lebih tinggi
- Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menyatakan bahwa risiko karhutla tahun ini meningkat
- Data pemantauan satelit menunjukkan terdapat 702 hotspot sepanjang 1 Januari hingga 5 April 2026
RRI.CO.ID, Jakarta - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tahun ini meningkat karena kemarau panjang tahun 2026. Musim kemarau tahun ini akan lebih panjang karena datangnya yang lebih cepat.
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menyatakan di kantor Kementerian Kehutanan, Jakarta, Senin 6 April 2026. Risiko Karhutla tahun ini meningkat dan perlu diantisipasi secara serius oleh seluruh pihak.
“Kebakaran hutan dan lahan 2026 ini akan lebih mengancam kita," kata Menhut. Indikasi awal Karhutla sudah terlihat di sejumlah wilayah seperti Riau dan Kalimantan Barat.
Karhutla di wilayah itu masih dengan pola lama yaitu pembukaan lahan dengan cara membakar lahan. Untuk mengatasi hal itu, Menhut mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan kepolisian.
Aparat diminta untuk menegakan hukum, karena pembakara lahan adalah tindak pidana. "Perlu penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan,” kata Raja Juli.
Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, luas karhutla pada periode Januari–Februari 2026 mencapai 32.637,43 hektare. Lima provinsi dengan kejadian tertinggi adalah Kalimantan Barat, Riau, Sulawesi Tengah, Lampung, dan Kalimantan Tengah.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun ini datang lebih awal. Dan berlangsung lebih lama dengan curah hujan di bawah rata-rata klimatologis.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi variabilitas iklim alami. Serta adanya potensi berkembangnya fenomena El Niño pada paruh kedua 2026.
“Hingga akhir Maret 2026, BMKG mencatat sekitar 7 persen zona musim di Indonesia telah memasuki kemarau. Dan jumlah ini diperkirakan meningkat signifikan pada April hingga Juni,” ujar Faisal.
Di sisi lain, lonjakan titik panas juga mulai terlihat. Data pemantauan satelit menunjukkan terdapat 702 hotspot sepanjang 1 Januari hingga 5 April 2026.
Data tersebut meningkat 82,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dengan tren ini, pemerintah mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Terutama dalam aktivitas pembukaan lahan. Tujuannya untuk mencegah meluasnya kebakaran di tengah musim kering yang kian ekstrem,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....