DPR Minta Pemerintah Percepat Substitusi Impor Pengembangan Komoditas Lokal
- 06 Apr 2026 13:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Anggota Komisi IV DPR RI, Slamet menyoroti, meningkatnya tekanan terhadap ketahanan pangan nasional akibat konflik geopolitik global
- Politikus PKS ini menegaskan, pemerintah perlu mempercepat substitusi impor melalui pengembangan komoditas lokal
- Memperkuat cadangan pangan nasional, serta melakukan reformasi sistem logistik untuk menekan biaya distribusi
RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota Komisi IV DPR RI, Slamet menyoroti, meningkatnya tekanan terhadap ketahanan pangan nasional akibat konflik geopolitik global. Lonjakan harga energi, mendorong kenaikan biaya logistik dan produksi pangan dunia.
Politikus PKS ini menegaskan, pemerintah perlu mempercepat substitusi impor melalui pengembangan komoditas lokal. Komoditas lokal ini, seperti sorgum dan kedelai domestik.
"Memperkuat cadangan pangan nasional, serta melakukan reformasi sistem logistik untuk menekan biaya distribusi. Selain itu, perlindungan terhadap petani dan pelaku UMKM pangan harus diperkuat," kata Slamet dalam keterangan persnya, di Jakarta, Senin, 6 April 2026.
Slamet menegaskan, pemerintah harus menjamin pupuk subsidi dan dukungan pembiayaan terhadap petani. Pemerintah juga perlu melakukan diversifikasi negara sumber impor serta penguatan ekosistem pangan berbasis koperasi.
“Krisis ini harus menjadi momentum untuk membangun kemandirian pangan nasional. Lebih kuat, resilien, dan berpihak kepada petani serta masyarakat,” ucap Slamet.
Sejauh ini, kata Slamet, Indonesia masih bergantung pada impor sejumlah komoditas strategis menghadapi risiko ganda. Risiko ganda yang dimaksud itu, kenaikan harga global dan pelemahan nilai tukar.
"Data menunjukkan, Timur Tengah menyuplai sekitar 30 persen minyak dunia dan 20 persen jalur perdagangan global melewati Selat Hormuz. Sehingga, gangguan kawasan tersebut langsung berdampak pada harga energi dan biaya pengapalan global," ujar Slamet.
Tekanan paling signifikan, kata Slamet, terjadi pada komoditas pangan strategis. Indonesia mengimpor gandum sekitar 11 juta ton per tahun (100 persen impor).
Dengan, risiko kenaikan harga global akibat lonjakan biaya energi dan logistik. "Komoditas kedelai yang mencapai ±2,6 juta ton per tahun (70–80 persen impor) juga mengalami kenaikan harga global," ujarnya.
"Tercatat, mencapai sekitar USD 409,48 per ton pada Februari 2026. Dipicu oleh kenaikan biaya pupuk dan transportasi," kata Slamet.
Sebelumnya diberitakan, harga pangan global naik pada Maret 2026 setelah biaya energi meningkat akibat konflik di Timur Tengah. Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menyebut kenaikan mencapai 2,4 persen dibanding Februari, sekaligus menjadi peningkatan bulanan kedua berturut-turut.
Semua kelompok komoditas utama mencatat kenaikan, termasuk serealia, daging, produk susu, minyak nabati, dan gula. Secara tahunan, Indeks Harga Pangan FAO juga naik sekitar 1 persen, dilansir dari Anadolu, Sabtu, 4 April 2026.
Indeks harga serealia meningkat 1,5 persen secara bulanan dan 0,6 persen dibanding tahun lalu. Sementara itu, indeks minyak nabati melonjak 5,1 persen dan mencatat kenaikan tiga bulan berturut-turut, dengan peningkatan tahunan sebesar 13,2 persen.
Harga minyak sawit internasional mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022. Kenaikan ini dipicu lonjakan harga minyak mentah yang memberi dampak limpahan ke pasar komoditas pangan.
Indeks harga daging tercatat naik 1 persen dibanding Februari dan meningkat 8 persen secara tahunan. Produk susu juga mengalami kenaikan 1,2 persen secara bulanan, meskipun masih berada di bawah level tahun lalu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....