Umat Katolik Bekasi Maknai Tri Hari Suci untuk Berkumpul dengan Keluarga
- 03 Apr 2026 14:32 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Tri Hari Suci menjadi momen refleksi iman sekaligus mempererat hubungan dengan Tuhan dan sesama, termasuk melalui kebersamaan keluarga.
- Kisah sengsara Yesus dimaknai sebagai panggilan untuk mengasihi, mengampuni, dan belajar memikul “salib” dalam kehidupan sehari-hari.
- Umat meyakini setiap kejatuhan dalam hidup selalu diikuti kesempatan untuk bangkit, dengan keyakinan Tuhan senantiasa menolong dan menguatkan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Di tengah kesibukan sehari-hari, momen Tri Hari Suci menjadi ruang hening bagi banyak umat Katolik untuk kembali merefleksikan iman. Bagi Iin Agustina, umat Katolik asal Bekasi, peringatan ini menjadi kesempatan untuk mempertahankan hubungan, baik dengan Tuhan dan sesama.
Ia mengaku, momentum ini sering dimanfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga. Dalam kebersamaan itu, mereka saling mengingatkan pentingnya komunikasi yang kerap terabaikan oleh rutinitas.
"Kita kumpul keluarga, saling memberi perhatian, saling mengingatkan. Kadang karena kesibukan, kita jadi lupa untuk sekadar ngobrol dan berbagi," katanya kepada RRI usai menyaksikan drama Lux in Nihilo, Gereja Katedral Jakarta, Jakarta Pusat, Jumat, 13 April 2026.
Baginya, kisah sengsara Yesus Kristus menghadirkan refleksi yang sangat personal. Ia melihat pengorbanan tersebut sebagai panggilan untuk belajar memikul “salib” dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, memaknai salib bukan hanya tentang menerima penderitaan, tetapi juga tentang keberanian untuk mengasihi. Bahkan, kepada mereka yang mungkin pernah menyakiti.
"Kalau saya disakiti orang, apakah saya masih bisa mengasihi? Kalau tidak, berarti saya justru menambah beban salib itu," ucapnya.
Pergulatan batin itu, kata Iin, menjadi pengingat bahwa menyangkal diri bukan hal yang mudah. Namun di situlah letak makna terdalam dari iman—belajar mengalahkan ego, dan mengampuni.
Sementara itu, Elma, umat Katolik asal Jakarta memaknai Jumat Agung sebagai momen refleksi atas penderitaan Yesus Kristus. Terutama dalam hal menebus dosa umat manusia dan kebangkitan-Nya pada hari ketiga.
Menurutnya, makna tersebut sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menilai, setiap manusia pasti pernah jatuh dalam dosa, namun selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali.
"Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti pernah mengalami jatuh dan baru kemudian sadar. Tapi di saat seperti itu, Tuhan selalu hadir untuk menolong dan menguatkan kita," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....