Apa Itu Prostrasi saat Jumat Agung? Simak Penjelasannya
- 02 Apr 2026 14:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Prosesi prostrasi (tiarap) dalam ibadat Jumat Agung merupakan tindakan liturgis khidmat yang dilakukan imam sebagai simbol kerendahan hati, duka cita, dan penyerahan diri kepada Tuhan.
- Tradisi ini dilakukan di awal ibadat dalam keheningan, mengajak umat merenungkan wafat Yesus Kristus di kayu salib.
- Selain prostrasi, umat juga melakukan penghormatan salib sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanan Kristus dan makna keselamatan bagi manusia.
RRI.CO.ID, Jakarta - Setiap ibadat Jumat Agung, terdapat salah satu prosesi doa yang dilakukan dalam posisi tiarap atau sujud. Prosesi ini biasanya dilakukan oleh para pemimpin ibadat sebagai bentuk kerendahan hati, penghormatan, serta penyerahan diri di hadapan Tuhan.
Posisi ini disebut Prostrasi (tiarap), dan dalam ibadat Jumat Agung di Gereja Katolik adalah tindakan liturgis yang sangat khidmat. Gerakan ini dilakukan pada awal ibadat, di mana imam selebran meniarapkan diri di depan altar yang kosong.
Tindakan ini melambangkan kerendahan hati yang mendalam, duka cita atas wafatnya Yesus Kristus. Selain itu tindakan ini melambangkan penyerahan diri total kepada Allah.
Makna dan Tata Cara Prostrasi Jumat Agung
Pada umumnya, ibadat Jumat Agung (Mengenang Sengsara Tuhan) dimulai bukan dengan nyanyian pembuka. Melainkan dengan imam meniarapkan diri (prostrasi) di depan altar dalam keheningan total.
Tindakan ini merupakan ekspresi duka cita yang mendalam, pertobatan, dan penghormatan tertinggi kepada salib Kristus. Saat prostrasi, seluruh umat diundang untuk berdoa dalam hening, merenungkan pengorbanan Yesus yang wafat di kayu salib.
Selain prostrasi di awal, umat juga melakukan penghormatan salib dengan cara mencium atau membungkuk di depan salib. Hal ini dilakukan sebagai simbol penghargaan martabat manusia yang diselamatkan oleh Kristus.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....