Pascalebaran, Satgas Saber Pangan Terus Pantau Pasar

  • 26 Mar 2026 22:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Satgas Saber Pangan memantau kondisi pangan pasca Idulfitri 1447 Hijriah
  • Pemantauan dilakukan di Jakarta Timur dan Kabupaten Bekasi
  • Pengawasan dilakukan di pasar tradisional dan ritel modern
  • Stok pangan secara umum masih cukup meskipun sebagian pedagang belum kembali
  • Beberapa komoditas seperti daging sapi, sayur, dan beras belum tersedia merata
  • Harga komoditas segar cenderung naik karena pasokan berkurang saat libur Lebaran
  • Harga cabai di Pasar Ciracas masih di atas harga acuan pemerintah
  • Harga diperkirakan kembali normal seiring pasokan dan distribusi kembali lancar

RRI.CO.ID, Jakarta - Satuan Tugas Sapu Bersih Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan terus memantau kondisi pangan pascalebaran. Pemantauan dilakukan untuk memastikan harga tetap wajar dan pasokan aman di pasaran.

Pengawasan dilakukan di wilayah Jakarta Timur dan Kabupaten Bekasi sejak H+3 Lebaran hingga minggu pertama setelah Lebaran. Pemantauan dilakukan di pasar tradisional dan ritel modern.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional selaku Ketua Pelaksana Satgas mengatakan kondisi pangan pascalebaran masih terjaga. Stok pangan secara umum masih cukup meskipun sebagian pedagang belum kembali berjualan.

“Memang setelah Lebaran kondisi belum sepenuhnya normal. Di lapangan kami terus pantau harga dan cek pasokan supaya tetap berjalan,” ucap Deputi Ketut di Jakarta, Rabu 25 Maret 2026.

Ia mengatakan sebagian pedagang masih belum kembali berjualan sehingga beberapa komoditas belum tersedia merata. Komoditas seperti daging sapi, sayur mayur, dan beras masih terbatas di beberapa pasar.

Kondisi tersebut mempengaruhi harga komoditas segar yang cenderung lebih tinggi. Terutama komoditas yang bergantung pada pasokan harian dari daerah produksi.

Di Pasar Ciracas Jakarta Timur, harga cabai masih berada di atas harga acuan pemerintah. Hal ini dipengaruhi libur petik saat Lebaran sehingga pasokan sempat berkurang.

“Biasanya menjelang Lebaran petani libur petik sehingga pasokan sedikit berkurang dan harga naik. Namun stok di pasar masih relatif tersedia,” kata Ketut Astawa.

Ia mengatakan kondisi kenaikan harga setelah Lebaran merupakan hal yang biasa terjadi setiap tahun. Harga diperkirakan akan kembali normal seiring pasokan kembali lancar.

Perkembangan di daerah produsen mulai menunjukkan tren positif. Harga cabai di Kota Surakarta mulai menurun pada akhir Maret.

Cabai merah keriting tercatat sekitar Rp35.000 per kilogram. Cabai rawit merah Rp55.000 hingga Rp60.000 per kilogram dan cabai merah besar sekitar Rp40.000 per kilogram.

Penurunan harga di daerah produsen diharapkan dapat menekan harga di daerah konsumsi seperti Jakarta. Distribusi yang kembali normal menjadi faktor penting stabilisasi harga.

Ia juga mengingatkan bahwa harga di pasar tradisional bersifat dinamis karena menggunakan sistem tawar-menawar. Masyarakat diharapkan aktif menawar untuk mendapatkan harga yang lebih baik.

“Pasar tradisional itu pasar tawar-menawar. Kalau di pasar harus tawar-menawar untuk mendapatkan harga yang sesuai,” ucapnya.

Sementara itu di ritel modern, harga dan stok komoditas pangan relatif aman. Beberapa komoditas dijual sesuai harga acuan pemerintah.

Beras premium dijual sekitar Rp14.900 per kilogram dan daging sapi Rp128.900 per kilogram. Telur ayam ras Rp29.700 per kilogram dan gula konsumsi Rp17.500 per kilogram.

Pemantauan di Pasar Tambun Kabupaten Bekasi menunjukkan harga Minyakita sesuai HET Rp15.700 per liter. Harga telur ayam ras juga sesuai Harga Acuan Penjualan yaitu Rp30.000 per kilogram.

Di ritel modern, beras SPHP dijual Rp62.500 per 5 kilogram. Daging ayam ras Rp34.900 per kilogram serta gula konsumsi Rp17.500 per kilogram.

Satgas Pangan memastikan informasi harga acuan pemerintah tersampaikan kepada pedagang dan masyarakat. Stiker informasi HET dan HAP dipasang di kios pedagang sebagai acuan transaksi.

Satgas juga mengingatkan pelaku usaha tidak melakukan penimbunan dan menjaga distribusi tetap lancar. Hal ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.

Kepala Badan Pangan Nasional menekankan pentingnya menjaga keseimbangan produksi dan distribusi. Produksi yang cukup dan distribusi lancar menjadi kunci stabilitas harga pangan.

“Kalau produksi surplus dan distribusi lancar, maka harga akan stabil. Itu yang kita jaga terus dari hulu sampai hilir,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....