Kementan Perkuat ISPO Industri Sawit

  • 10 Mar 2026 22:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah memperkuat tata kelola industri kelapa sawit melalui penerapan standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Kebijakan ini kini bersifat wajib bagi seluruh pelaku usaha sawit.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan industri sawit tumbuh berkelanjutan. Pemerintah juga ingin menjaga daya saing di pasar global.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan penguatan standar keberlanjutan sangat penting. Kebijakan ini menjadi fondasi masa depan industri sawit nasional.

“Indonesia tidak boleh mundur. Sawit adalah kekuatan ekonomi bangsa,” ucapnya dalam rilis resmi Selasa 9 Maret 2026.

Menurutnya, tata kelola sawit harus semakin kuat dan berkelanjutan. Pemerintah juga mendorong hilirisasi agar manfaat ekonomi semakin luas.

Transformasi subsektor perkebunan diarahkan pada pengembangan industri turunan. Langkah ini diharapkan meningkatkan nilai tambah komoditas sawit.

Indonesia juga didorong tidak hanya mengekspor bahan mentah. Pemerintah ingin memperkuat posisi sebagai pusat industri hilir sawit dunia.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan Abdul Roni Angkat menilai sawit memiliki keunggulan kompetitif. Komoditas ini lebih produktif dibandingkan minyak nabati lainnya.

Luas perkebunan kelapa sawit nasional mencapai 16,83 juta hektare. Produksi crude palm oil tahun 2025 diperkirakan mencapai 48,12 juta ton.

Dengan kapasitas tersebut, Indonesia tetap menjadi produsen sawit terbesar dunia. Industri ini juga berperan penting dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati global.

Selain menyumbang devisa negara, sektor sawit juga menyerap banyak tenaga kerja. Jutaan masyarakat menggantungkan hidup pada industri ini.

Tercatat lebih dari 16 juta tenaga kerja bergantung pada sektor sawit. Sekitar 5,2 juta di antaranya merupakan pekebun rakyat.

Roni menambahkan pemerintah terus memperkuat pendampingan bagi pekebun. Berbagai program strategis juga terus dijalankan.

Program tersebut meliputi peremajaan sawit dan dukungan sarana produksi. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia juga terus dilakukan.

“Sawit menyerap banyak tenaga kerja. Karena itu produktivitas dan keberlanjutan harus berjalan bersama,” ucapnya.

Melalui penguatan standar ISPO, pemerintah optimistis industri sawit semakin tangguh. Hilirisasi juga diharapkan memperkuat ekonomi nasional.

Sawit dinilai memiliki peran strategis bagi pembangunan berkelanjutan. Komoditas ini juga mendukung ketahanan pangan dan energi nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....