MPR: Pengembangan AI Nasional Harus Ditopang Energi Bersih Berkelanjutan

  • 05 Mar 2026 19:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menegaskan pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan teknologi digital di Indonesia harus ditopang oleh ketersediaan energi yang cukup, stabil, dan bersih. Dukungan energi tersebut dinilai menjadi fondasi penting agar Indonesia mampu bersaing dalam ekonomi digital global.

Menurutnya, transformasi digital yang mencakup pemanfaatan AI, big data, hingga cloud computing membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar. Kebutuhan energi tersebut terutama digunakan untuk operasional pusat data (data center) yang menjadi tulang punggung infrastruktur digital.

“Perkembangan teknologi seperti artificial intelligence, big data, dan cloud computing membutuhkan energi dalam jumlah sangat besar. Jika kita ingin Indonesia menjadi pemain penting dalam ekonomi digital global, maka kita harus memastikan pasokan energi yang cukup, stabil, dan semakin bersih,” ujar Eddy Soeparno, Kamis, 5 Maret 2026.

Ia menjelaskan tanpa dukungan energi yang memadai, ambisi Indonesia untuk menjadi pemain utama dalam ekonomi digital akan sulit terwujud. Oleh karena itu, penguatan sektor energi menjadi bagian penting dalam strategi pembangunan ekonomi berbasis teknologi.

Pernyataan tersebut disampaikan Eddy saat menjadi pembicara kunci dalam agenda MPR Goes to Campus di Kampus Bina Nusantara (Binus) Bandung, Jawa Barat. Dalam kesempatan tersebut, ia menyoroti keterkaitan erat antara transformasi digital dan ketahanan energi nasional.

Eddy menambahkan sejumlah negara yang menjadi pusat pengembangan teknologi AI global telah memprioritaskan energi terbarukan. Ini sebagai sumber utama operasional pusat data mereka.

“Perusahaan teknologi global seperti Google, Microsoft, hingga Amazon menempatkan energi terbarukan sebagai fondasi operasional data center mereka. Ini soal keberlanjutan lingkungan, sekaligus juga soal efisiensi, stabilitas energi, dan daya saing ekonomi,” kata dia.

Menurut Eddy, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengikuti langkah tersebut. Hal ini didukung oleh potensi energi terbarukan nasional yang sangat besar dari berbagai sumber.

Ia menyebut potensi energi terbarukan Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 3.600 gigawatt yang berasal dari sumber energi surya, hidro, panas bumi. Hingga angin.

“Indonesia memiliki potensi energi terbarukan lebih dari 3.600 gigawatt dari berbagai sumber. Ini adalah modal besar untuk menjadikan Indonesia sebagai hub ekonomi digital sekaligus pusat pengembangan teknologi di kawasan,” ucapnya.

Eddy juga mendorong percepatan investasi serta reformasi kebijakan di sektor energi terbarukan. Upaya tersebut dinilai penting agar pertumbuhan industri digital dan pengembangan teknologi AI dapat berjalan secara berkelanjutan.

Selain itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sektor industri. Dan perguruan tinggi dalam membangun ekosistem teknologi nasional.

“Kampus seperti Binus memiliki peran penting dalam menyiapkan talenta-talenta digital masa depan. Di saat yang sama, riset di bidang energi terbarukan dan teknologi informasi harus berjalan beriringan agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar produk teknologi, tetapi juga pencipta inovasi,” katanya.

Menurut Eddy, percepatan transisi energi juga membuka peluang ekonomi baru bagi Indonesia. Pengembangan energi bersih dinilai mampu menciptakan lapangan kerja hijau sekaligus memperkuat daya saing nasional.

“Transisi energi bukan hanya agenda lingkungan, tetapi juga agenda ekonomi. Dengan mengembangkan energi terbarukan untuk menopang ekosistem teknologi digital, kita dapat menciptakan industri baru, lapangan kerja baru, dan meningkatkan daya saing Indonesia di masa depan,” ujar dia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....