Mentan Amran Percepat Peremajaan dan Perluasan Tebu untuk Kejar Swasembada Gula

  • 27 Agt 2026 06:24 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pengembangan dilakukan melalui pembukaan areal baru dan peremajaan tanaman tebu rakyat yang tidak lagi produktif
  • Pengembangan areal tebu baru di Lampung telah mencapai sekitar 30 ribu hektare
  • Sekitar 86 persen tanaman tebu rakyat atau plasma dinilai membutuhkan peremajaan
  • Pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp1,7 triliun untuk peremajaan tebu rakyat
  • Mentan Andi Amran Sulaiman mempercepat pengembangan tebu nasional untuk mengejar swasembada gula dalam dua tahun

RRI.CO.ID, Tulang Bawang - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mendorong percepatan pengembangan tebu nasional melalui pembukaan areal baru dan peremajaan tanaman yang sudah tidak produktif. Langkah tersebut dilakukan untuk mengejar target swasembada gula yang ditargetkan dapat dicapai dalam dua tahun.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya memberikan target swasembada gula kepada Mentan Amran dalam empat tahun saat Panen Raya Tebu di Malang, 17 Juli 2026. Namun, Amran menyatakan target tersebut dapat dipercepat menjadi dua tahun melalui program peremajaan tebu seluas 100 ribu hektare per tahun.

“Tadi Menteri Pertanian melaporkan kepada saya program kita sekarang adalah 100 ribu hektare per tahun. Dengan demikian akan dicapai dalam empat tahun. Tapi setelah saya tanya lagi ke beliau, dengan gagah dan berani beliau mengatakan, ‘Pak, kita bisa dalam dua tahun’,” ujar Presiden Prabowo.

Amran menyebut pengembangan areal tebu baru di Lampung telah mencapai sekitar 30 ribu hektare. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat ketersediaan bahan baku industri gula sekaligus meningkatkan produksi gula nasional.

“Moga-moga bisa (produksi) 100 ton satu hektare,” ujar Amran dalam kunjungan kerjanya di Kecamatan Gedung Meneng, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, Rabu 26 Agustus 2026.

Amran mengatakan peningkatan produksi gula tidak cukup hanya mengandalkan perluasan areal. Pemerintah juga perlu memperbaiki produktivitas tanaman melalui peremajaan tebu rakyat yang sudah tidak layak produksi.

Menurut Amran, sekitar 86 persen tanaman tebu rakyat atau plasma membutuhkan peremajaan. Pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp1,7 triliun untuk membongkar tanaman lama dan menggantinya dengan tanaman tebu baru.

“86 persen itu plasma, tebu rakyat yang tidak layak, dibongkar. Sehingga Bapak Presiden perintahkan, kami diberi anggaran Rp1,7 triliun untuk membongkar plasma-plasma ini menjadi tebu baru,” kata Amran.

Program peremajaan tersebut ditargetkan selesai dalam tiga tahun. Amran optimistis langkah tersebut dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memperbaiki rendemen tebu sehingga produksi gula nasional semakin kuat.

“Kalau itu terjadi, insya Allah kebutuhan white sugar bisa cukup, bahkan lebih,” ujarnya.

Berdasarkan Taksasi Tengah Giling 2026, produksi Gula Kristal Putih (GKP) nasional diperkirakan mencapai 3,02 juta ton. Angka tersebut meningkat sekitar 13,1 persen dibandingkan produksi pada 2025.

Peningkatan produksi ditopang bertambahnya luas areal tebu, kenaikan produksi tebu, serta perbaikan rendemen. Pada 2026, luas areal tebu diperkirakan mencapai 585.390 hektare dengan produksi tebu sekitar 40,20 juta ton dan rendemen 7,51 persen.

Amran mengatakan pemerintah juga akan memperkuat seluruh ekosistem pergulaan, termasuk memberikan dukungan kepada pabrik gula untuk meningkatkan kapasitas dan produktivitas. Dukungan tersebut diarahkan agar peningkatan produksi tebu dapat diikuti dengan peningkatan produksi gula.

“Semua pabrik gula unit usaha seluruh Indonesia kita dukung. Kita support supaya berproduksi tinggi,” katanya.

Menurut Amran, produktivitas menjadi salah satu kunci untuk mempercepat swasembada gula. Karena itu, pemerintah mendorong peremajaan tanaman, penggunaan benih unggul, perbaikan budidaya, peningkatan rendemen, serta penguatan kemitraan antara pekebun dan pabrik gula.

“Yang terpenting rendemen tebu. Saya gigit saja sudah tahu rendemennya,” ujar Amran.

Kawasan Tulang Bawang merupakan salah satu sentra utama tebu di Lampung. Data pemerintah daerah menunjukkan wilayah tersebut memiliki areal tebu yang luas dan menjadi salah satu pemasok bahan baku industri gula di Provinsi Lampung.

Melalui pengembangan tebu baru di Gedung Meneng dan peremajaan tanaman rakyat, pemerintah berupaya memperkuat produksi gula dari hulu hingga hilir. Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat pasokan gula dalam negeri, sekaligus meningkatkan kesejahteraan pekebun tebu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....