Kementerian PPPA Ungkap Kekerasan Picu Masalah Kesehatan Jiwa Anak
- 05 Mar 2026 15:06 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta : Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) mencatat 62,19 persen dari 1,6 juta anak dengan masalah kesehatan jiwa juga mengalami kekerasan setahun terakhir. Angka tersebut berdasarkan hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja 2024.
“Survei Pengalaman Hidup Anak dan Remaja 2024 menunjukkan kekerasan terhadap anak berkaitan erat dengan meningkatnya masalah kesehatan jiwa. Dari 1,6 juta anak, 62,19 persen anak mengalami masalah kesehatan jiwa dan mengalami kekerasan dalam 12 bulan terakhir,” kata Menteri PPPA Arifah Fauzi saat memberikan sambutan dalam Rapat Koordinasi Surat Keputusan Bersama tentang Kesehatan Jiwa Anak di Jakarta, Kamis, 5 Maret 2026.
Ia menjelaskan, bentuk kekerasan yang dialami anak beragam, mulai dari kekerasan seksual, emosional hingga fisik. Pada kasus kekerasan seksual, tercatat 14,49 persen dialami anak laki-laki dan 22,44 persen pada anak perempuan.
“Sementara kekerasan emosional menjadi yang paling dominan. Angkanya mencapai 95,9 persen pada anak perempuan,” ucap Arifah.
Lebih lanjut, Arifah menyampaikan kekerasan fisik dialami 37,44 persen anak laki-laki dan 33,91 persen anak perempuan. Ia menyatakan pengalaman kekerasan menjadi faktor penting yang berkontribusi terhadap munculnya masalah kesehatan jiwa pada anak.
“Data ini menunjukkan bahwa ketika seorang anak pernah mengalami kekerasan, baik seksual, emosional maupun fisik. Hal tersebut berkontribusi terhadap munculnya masalah kesehatan jiwa,” ucap Arifah.
Karena itu, Kementerian PPPA memperkuat berbagai langkah perlindungan anak guna menangani meningkatnya kasus kekerasan yang berdampak kesehatan jiwa. Termasuk dengan memaksimalkan Program Ruang Bersama Indonesia sebagai ruang aman bagi anak.
Sementara, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudauaan (Menko PMK) Pratikno menekankan pentingnya sinergi lintas kementerian. Khususnya dalam upaya pencegahan dan penanganan masalah kesehatan jiwa anak.
“Oleh karena itu kita perlu penguatan koordinasi melalui keputusan bersama. Karena ada kebutuhan sinergi untuk promosi edukasi dan literasi yang melibatkan banyak pihak,” kata Pratikno.
Ia menambahkan, kolaborasi lintas kementerian akan diperkuat untuk mendorong promosi edukasi, pencegahan, serta deteksi dini masalah kesehatan jiwa. Selain itu, pemerintah juga akan memperkuat sistem perlindungan anak melalui lingkungan yang lebih aman.
“Kemudian yang kedua adalah pencegahan dan deteksi dini. Ini penting karena kementerian-kementerian tersebut memiliki jaringan yang sangat kuat, baik untuk edukasi maupun pencegahan,” ucap Pratikno menutup.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....