Stok Energi 21-23 Hari, DEN Nilai Kondisi Masih Aman

  • 04 Mar 2026 19:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RR.CO.ID, Jakarta - Anggota Unsur Pemangku Kepentingan DEN Saleh Abdurrahman menyatakan krisis Timur Tengah belum berdampak signifikan terhadap ketahanan energi Indonesia. Ia menegaskan indikator utama terlihat dari ketersediaan stok nasional yang masih relatif aman selama 21 hingga 23 hari.

Ia menjelaskan ketegangan Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah meluas hingga negara-negara teluk penghasil minyak utama. Dampaknya mulai terasa melalui berkurangnya produksi minyak mentah dan produk turunan akibat gangguan pengiriman.

“Karena pasokan dunia itu menipis, pengiriman tidak bisa berjalan maka harga langsung meningkat. Bahkan meskipun kita punya uang pun kita nggak gampang juga cari minyaknya,” ujarnya kepada RRI PRO3 di Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.

Menurutnya, setiap badan usaha niaga wajib memiliki cadangan operasional minimal 23 hari sesuai ketentuan BPH Migas. Perhitungan tersebut didasarkan pada rata-rata penjualan dalam periode tiga bulan hingga satu tahun terakhir.

Ia menyebut stok Pertamina sebagai pemasok terbesar nasional berada dalam kondisi cukup menenangkan saat ini. Rinciannya meliputi Pertalite 24 hari, Pertamax 28 hari, Turbo 29 hari, Dex 38 hari, serta Avtur 34 hari.

Saleh menekankan secara umum krisis Timur Tengah saat ini tidak terlalu berdampak langsung bagi Indonesia. Ia tetap mengingatkan Pertamina dan badan usaha swasta terus mencari sumber pasokan alternatif agar stok terjaga.

“Stok kita itu masih cukup dan saya kira bahkan mungkin semua badan usaha sekarang sudah bekerja keras untuk mendapatkan pasukan-pasukan baru. Sehingga cadangan itu tetap terjaga pada angka 21-23 hari,” katanya.

Sebelumnya, Menteri ESDM mengungkapkan stok BBM dan LPG saat ini rata-rata berada di atas standar minimum nasional. Menurutnya, standar minimum nasional yang ditetapkan untuk cadangan energi adalah selama 21 hari.

Bahlil menegaskan seluruh cadangan yang tersedia telah melampaui batas minimum 21 hari tersebut. Namun ia mengakui ketahanan energi nasional dan kapasitas penyimpanan maksimal berada pada kisaran 25 hingga 26 hari.

Karena itu, pemerintah kini berupaya membangun fasilitas penyimpanan dengan kapasitas hingga tiga bulan. Ia menambahkan kapasitas tiga bulan tersebut merupakan standar internasional yang menjadi acuan penguatan ketahanan energi nasional.

“Makanya sekarang pemerintah lagi sedang berusaha untuk membangun storage (penyimpanan) yang kapasitasnya bisa sampai dengan 3 bulan. Karena itu standar internasional,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....