Cegah Anak Bosan, Mendukbangga Dorong SPPG Kreatif Olah Menu MBG
- 04 Mar 2026 18:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Cianjur - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji mendorong Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah untuk lebih kreatif dalam mengolah menu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kreativitas tersebut dinilai penting agar anak-anak, khususnya balita, tetap tertarik mengonsumsi makanan bergizi tanpa merasa bosan.
Menurut Wihaji, inovasi dalam pengolahan makanan tidak hanya berkaitan dengan rasa dan tampilan, tetapi juga harus tetap mempertahankan kandungan gizi yang dibutuhkan anak-anak. Ia menilai modifikasi menu yang tepat akan membuat program MBG lebih efektif dalam mendukung pemenuhan gizi.
"Jepang itu mampu modifikasi menunya dengan efektif dan efisien. Setiap hari mungkin menunya juga itu-itu saja, tetapi diolah dengan baik sehingga anak-anak tidak bosan dan tidak mengurangi kandungan gizinya," kata Wihaji saat meninjau SPPG Cipanas Sindangjaya 5 di Cianjur, Jawa Barat, Rabu, 4 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa anak-anak, seperti halnya orang dewasa, dapat mengalami kejenuhan apabila terus mengonsumsi jenis makanan yang sama dalam jangka waktu lama. Karena itu, variasi pengolahan makanan menjadi penting agar minat makan anak tetap terjaga.
Menurutnya, tanpa inovasi dalam pengolahan menu, anak-anak berpotensi mengalami kebosanan meskipun makanan tersebut bergizi. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi keberhasilan program MBG dalam jangka panjang.
Wihaji juga mengapresiasi kreativitas yang ditunjukkan oleh SPPG Cipanas Sindangjaya 5 yang memproduksi makanan siap masak atau ready to cook selama bulan Ramadhan. Menu tersebut diolah dari berbagai bahan seperti sayur-sayuran, protein, serta bahan pangan lainnya.
Ia menilai inovasi tersebut dapat menjadi contoh bagi SPPG di daerah lain dalam mengembangkan menu MBG yang lebih variatif. Dengan pengolahan yang tepat, makanan tetap bergizi sekaligus menarik bagi anak-anak.
Selain itu, Wihaji menekankan pentingnya intervensi gizi pada periode 1.000 hari pertama kehidupan, yakni sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun. Masa tersebut merupakan periode krusial yang sangat menentukan tumbuh kembang otak anak.
Ia menegaskan intervensi gizi yang tepat pada periode tersebut menjadi salah satu langkah penting dalam menurunkan angka stunting di Indonesia. Karena itu, kualitas makanan yang diberikan kepada anak-anak harus benar-benar terjaga.
SPPG Cipanas Sindangjaya 5 saat ini melayani dua desa, yakni Desa Sindangjaya dan Desa Cipanas di Kabupaten Cianjur. Layanan tersebut mencakup 12 satuan pendidikan dengan total 2.860 siswa serta sekitar 200 penerima manfaat dari kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Peternakan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Cecep Muhammad Wahyudin menjelaskan bahwa SPPG Cipanas memproduksi makanan siap masak secara mandiri selama bulan Ramadhan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan makanan bergizi tetap terjaga.
Ia juga meluruskan anggapan masyarakat yang mengira makanan ready to cook identik dengan makanan ultra proses atau UPF. Menurutnya, produk yang dibuat di SPPG tersebut sebagian besar tetap berasal dari bahan alami seperti sayur dan protein.
Cecep menyampaikan bahwa sekitar 85 persen bahan yang digunakan berasal dari sayuran dan sumber protein, sedangkan sekitar 25 persen merupakan bahan olahan. Komposisi tersebut dinilai masih memenuhi standar makanan sehat bagi penerima manfaat.
Dalam mendukung pelaksanaan program MBG, sebanyak 18 pelaku UMKM dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dilibatkan untuk memasok bahan baku. Keterlibatan pelaku usaha lokal ini sekaligus menjadi upaya memperkuat perekonomian masyarakat.
Menurut Cecep, semakin banyak pemasok yang terlibat maka semakin beragam pula bahan pangan yang tersedia. Hal ini dinilai mampu menjaga rantai pasok sekaligus memberikan dampak ekonomi yang lebih merata bagi masyarakat sekitar.
Selain itu, pihak SPPG juga secara rutin menggelar pertemuan evaluasi yang melibatkan kepala posyandu dan kepala sekolah setiap bulan. Pertemuan tersebut bertujuan mengevaluasi pelaksanaan program MBG sekaligus meningkatkan kualitas layanan.
Ia menambahkan bahwa SPPG Cipanas juga didukung oleh juru masak yang berpengalaman dalam pengolahan makanan dalam jumlah besar. Bahkan salah satu juru masak di tempat tersebut pernah memasak untuk jamaah haji di Arab Saudi selama sekitar tujuh tahun.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....