Pemerintah Pastikan Kematian Siswa Bengkulu Tak Terkait MBG
- 04 Mar 2026 16:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah memastikan wafatnya siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri 2 Ketahun, Bengkulu Utara, tidak terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penegasan itu disampaikan untuk meluruskan informasi yang sempat berkembang di tengah masyarakat.
Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari mengatakan, hasil penelusuran resmi tidak menemukan kaitan antara insiden itu dengan program MBG. "Badan Gizi Nasional menegaskan bahwa kematian siswa tersebut tidak berkaitan dengan program MBG," kata Qodari saat konferensi pers capaian program prioritas Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.
Dalam kesemptan itu, Qadari menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya siswa bernama Fatih. Ia menekankan, keselamatan peserta didik menjadi prioritas utama dalam setiap pelaksanaan program pemerintah.
Menurutnya, setiap peristiwa yang diduga berkaitan dengan kebijakan negara akan ditangani secara serius dan menyeluruh. Pemerintah memastikan investigasi dilakukan secara objektif berdasarkan fakta medis dan hasil uji laboratorium.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, Fatih diketahui telah pingsan sebelum sempat mengonsumsi paket MBG pada hari kejadian. Temuan itu diperkuat oleh hasil pemeriksaan medis di rumah sakit.
"Hasil pemeriksaan medis, CT Scan di Rumah Sakit Bhayangkara menunjukkan adanya pendarahan otak. Bukan gejala klinis keracunan makanan," katanya.
Selain itu, uji laboratorium oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan terhadap sampel makanan di SPPG Giri Kencana dinyatakan negatif dari bakteri berbahaya. Hasil tersebut termasuk tidak ditemukannya E. Coli maupun bentuk cemaran lainnya.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, turut menegaskan hal serupa. Ia mengatakan, kematian siswa MIN 2 Bengkulu Utara itu tidak berkaitan dengan konsumsi menu MBG.
"Fatih belum memakan menu MBG dari SPPG Giri Kencana. Ketika diketahui pingsan sebelum dibawa ke rumah sakit," kata Nanik dalam pernyataannya di Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026.
Nanik memastikan, hasil CT Scan di RS Bhayangkara menunjukkan adanya pendarahan otak pada korban. Kondisi tersebut membuat Fatih dirujuk ke RS Tiara Sella yang memiliki fasilitas operasi bedah saraf.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....