imbas Blokade Selat Hormuz, Pabrik Petrokimia Candra Asri Tetapkan 'Force Majeure'

  • 04 Mar 2026 13:06 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Perusahaan Petrokimia milik Indonesia, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menyatakan terdampak langsung dari blokade Selat Hormuz akibat konflik Timur Tengah baru-baru ini. Mereka mengumumkan kondisi kahar atau 'force majeure' setelah jalur logistik internasional tersbut terganggu.

"Kami memantau dengan cermat perkembangan situasi antara AS dan Iran dan telah menerapkan langkah-langkah pencegahan untuk menjaga ketahanan operasional di seluruh unit bisnis kami," kata perusahaan dalam pernyataannya, dikutip dari Bloomberg, 4 Maret 2026.

Status tersebut diberlakukan karena keterlambatan pengiriman pasokan yang berada di luar kendali perusahaan. Pasokan bahan baku dikabarkan tersendat dan mulai memengaruhi operasional manufaktur.

"Hal ini terutama disebabkan oleh situasi keamanan di dan sekitar Selat Hormuz yang telah mengakibatkan gangguan signifikan terhadap aktivitas transportasi maritim. Secara material kondisi ini mengganggu pengiriman pasokan bahan baku kami,” katanya.

Chandra Asri bergantung pada pasokan hidrokarbon impor sebagai bahan baku produksi petrokimia. Material tersebut digunakan untuk memproduksi plastik olefin dan poliolefin yang menopang berbagai industri manufaktur.

Kondisi ini berpotensi menekan produksi plastik untuk kebutuhan produksi barang itomotif, pipa, hingga kemasan barang konsumsi. Selain itu, perusahaan mungkin harus menanggung biaya pengiriman yang lebih tinggi akibat kapal logistik harus mengambil rute yang lebih jauh.

Diketahui, Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dan bahan baku industri global. Sekitar seperlima distribusi minyak dunia melewati jalur perairan yang menghubungkan Teluk Persia dengan laut lepas.

Ketegangan regional yang melibatkan AS dan Iran sejak Februari lalu menyebabkan aktivitas kapal tanker menurun tajam dalam beberapa pekan terakhir. Lalu lintas kapal turun drastis sejak konflik meningkat di kawasan tersebut.

Melansir laman Argus, data Kpler menunjukkan bahwa kapal terakhir yang melintasi Hormuz yakni VLCC KHK Empress pada 28 Februari. Kapal tersebut berlayar ke barat dengan kecepatan sekitar 14 knot sebelum tiba-tiba berbalik arah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....