Akademisi Sebut Kasus Gondola Surabaya Kurang Tanggap Darurat

  • 04 Mar 2026 16:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Guru Besar dari Universitas Indonesia, Prof. Zulkifli Djunaidi mengatakan, emergency response plan (rencana tanggap darurat) pada kasus gondola di Surabaya masih kurang. Seharusnya, lanjut dia, terdapat antisipasi emergency perubahan cuaca ekstrem.

"Tidak ada persiapan emergency untuk menangani hal ini. Jadi bukan hanya persiapan operasi yang dijalankan," kata Guru Besar Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia ini saat berbincang dengan Pro3 RRI, Rabu, 4 Maret 2026.

Menurutnya, perlindungan pekerja tidak cukup hanya dengan menyediakan alat pelindung diri (APD). Dalam kondisi tertentu, APD juga perlu dilengkapi dengan sistem alarm atau sensor untuk memberikan peringatan dini kepada pekerja.

“Bukan hanya diberi APD, tetapi APD-nya juga harus terintegrasi dengan alarm. Sehingga pekerja mendapat sinyal ketika kondisi sudah melewati batas aman,” katanya, menjelaskan.

Diketahui, hujan deras disertai angin kencang berujung petaka di kawasan Pakuwon Indah, Surabaya. Dua pekerja yang tengah membersihkan kaca menggunakan gondola di sebuah apartemen terjebak cuaca ekstrem.

Satu orang dilaporkan meninggal dunia, sementara satu lainnya selamat dan dirawat di rumah sakit. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Surabaya Laksita Rini Sevriani mengatakan, proses penanganan dilakukan tim penyelamat di tengah kondisi cuaca yang sempat memburuk.

“Infonya satu orang meninggal dunia. Untuk datanya nanti, belum selesai evakuasinya,” kata Rini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....