Direktur SDM Danantara: Komunikasi Sehat Jadi Kunci Atasi Keterbatasan Budaya
- 26 Feb 2026 07:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Direktur SDM Danantara, Sanjay Bharwani, mengatakan keterbatasan budaya antarmanusia bukanlah sebuah masalah. Melainkan sebuah tantangan yang bisa diatasi dengan cara berpikir terbuka dengan komunikasi yang sehat.
Menurutnya, batasan sering kali hanyalah ilusi mental yang tercipta dari persepsi masing-masing individu. "Batasan itu sering kali hanya ilusi dalam pikiran kita, kita bisa melewatinya dengan menghilangkan cara pandang yang membatasi diri sendiri," katanya saat menghadiri Global Awareness Conference 2026, Beacon Academy International School, Jakarta Utara, Rabu, 25 Februari 2026.
Ia menambahkan bahwa saat seseorang merasa gugup atau ragu dalam berinteraksi lintas budaya maupun generasi. Hal terpenting adalah tetap percaya diri serta menjaga pola pikir yang positif.
Tidak hanya itu, membangun perusahaan yang kuat membutuhkan ruang dialog yang terbuka. Batasan antargenerasi dan antarbudaya justru dapat dijadikan titik awal untuk berdiskusi dan saling memahami, bukan untuk dihindari.
"Kita sering kali tidak ingin melewati batas itu karena merasa tidak nyaman. Namun, yang biasa saya lakukan adalah justru mencoba mendekati batas tersebut, memahaminya," ucapnya.
Ia menekankan pentingnya membangun hubungan dengan seluruh elemen organisasi, terutama lintas generasi. Menurutnya, transfer pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya merupakan kunci keberlanjutan perusahaan.
Ia menilai, menilai, ketika pengalaman dan semangat muda bersatu, perusahaan dapat menghasilkan dampak yang besar. Tidak hanya bagi organisasi, tetapi juga bagi masyarakat dan negara.
Sementara itu, Kepala Sekolah Beacon Academy International School, Arvind Kumar Chalasani, menyampaikan pandangan serupa. Ia menilai bahwa batasan budaya bukanlah persoalan utama, melainkan bagian dari dinamika interaksi sehari-hari.
Menurutnya, perbedaan dapat muncul dalam bentuk bahasa, budaya, hingga latar belakang lingkungan. Baik di lingkungan kerja, di kelas, bersama guru, orang tua, maupun siswa.
"Dalam interaksi dengan orang-orang, baik di ruang kerja maupun di kelas, kita berhadapan dengan perbedaan linguistik, dan kultur. Itu adalah realitas yang tidak bisa dihindari," ujarnya
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....