Program PLTS 100 GW Dinilai Butuh Reformasi Regulasi Energi
- 21 Feb 2026 20:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta – Target pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt dinilai sebagai langkah ambisius yang dapat mengubah lanskap energi nasional. Namun, untuk merealisasikannya, pemerintah perlu melakukan reformasi kebijakan dan pembenahan menyeluruh di sektor kelistrikan.
CEO Landscape Indonesia, Agus Sari, mengatakan kapasitas 100 gigawatt hampir menyamai total kapasitas listrik nasional saat ini. Karena itu, implementasinya membutuhkan strategi komprehensif, perbaikan regulasi, serta dukungan investasi global agar pasar energi Indonesia lebih kompetitif dan menarik bagi investor.
“Debottlenecking sangat penting. Banyak sekali hal-hal yang berhubungan dengan regulasi yang membuat pasar kelistrikan kita tidak kompetitif,” ujar Agus, di Jakarta, Jumat 21 Februari 2026.
Salah satu kendalanya adalah skema biaya dan risiko sektor energi hijau. Sektor ini masih dianggap tidak stabil dibanding energi fosil.
Program besar pemerintah, kata dia, dapat mendorong pembenahan struktural tersebut. Selain aspek investasi, program ini juga dipandang sebagai peluang memperluas akses listrik ke wilayah terpencil.
Agus menyampaikan, masih banyak desa yang belum menikmati listrik meski berada tidak jauh dari pusat kota besar. Rencana distribusi kapasitas, yang dialokasikan untuk desa-desa, dinilai dapat mendorong pembangunan sosial ekonomi masyarakat.
Sementara itu, Pendiri FPCI, Dino Patti Djalal menilai, upaya peningkatan bauran energi terbarukan dalam satu dekade terakhir mengalami stagnasi. Selama 10 tahun terakhir, target 23 persen energi terbarukan dalam komposisi energi nasional dinilai tidak disertai investasi signifikan.
Hal ini membuat realisasinya tidak pernah tercapai. Capaian bauran energi terbarukan disebut hanya berkisar di angka 11 hingga 13 persen sepanjang periode tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....