Ketum PITI: Perayaan Imlek Jadi Simbol Harmoni dan Persatuan Bangsa

  • 19 Feb 2026 13:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada Februari 2026 ini tampil berbeda. Fenomena menarik terlihat ketika di beberapa daerah bahkan partai politik seperti Partai Demokrat menggelar perayaan Imlek.

“Momentum ini menjadi bukti nyata bahwa Imlek di Indonesia telah bertransformasi. Kini imlek bertransformasi menjadi simbol persatuan nasional dan kekayaan budaya milik bersama,” kata Ketua Umum Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), H. Serian Wijatno dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 19 Februari 2026.

Serian hadir memenuhi undangan puncak perayaan yang digelar Partai Demokrat di Djakarta Theatre, Jakarta Pusat, Rabu, 18 Februari 2026 petang. Ia menyambut baik acara yang mengusung tema "Harmoni Nusantara: Bersama Kita Kuat – Bersatu dalam Harapan Indonesia" itu.

Karena, kata Serian yang juga Wakil Ketua Umum Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), ini telah membuktikan bahwa apapun entitas organisasi bahkan partai politik sekalipun. Ini bisa menjadi "rumah besar" bagi seluruh elemen bangsa tanpa memandang latar belakang etnis maupun agama.

"Karena, esensi Imlek jauh melampaui batas-batas teologis. Perayaan Imlek bersama ini adalah oase bagi siapa pun yang meyakini kedamaian dan kebaikan sebagai tujuan interaksi antarmanusia,” ujarnya.

Ketua Umum PITI H. Serian Wijatno

Imlek tidak hanya menjadi renungan bagi warga Tionghoa, tetapi juga menjadi bagian dari interaksi antarbudaya yang telah mengakar di Nusantara. “Di PITI, kami memandang perayaan ini sebagai momen silaturahmi, sebuah nilai yang juga sangat dijunjung tinggi dalam ajaran Islam," katanya.

Anggota Dewan Pertimbangan MUI Pusat ini menambahkan bahwa kehadiran berbagai organisasi dan partai politik dalam merayakan Imlek mengirimkan pesan kuat. Pesan kuat itu, katanya, ditujukan kepada dunia bahwa Indonesia mampu mengelola keberagaman dengan elegan.

"Ini adalah bukti bahwa kita bisa meleburkan sekat-sekat eksklusivitas. Imlek adalah ruang temu yang hangat bagi semua tak hanya di pusat tapi juga di berbagai daerah," ucapnya.

Buktinya, atmosfir kehangatan Imlek juga sebenarnya sudah sejak lama dihadirkan di beberapa daerah. Di Surakarta, misalnya perayaan Grebeg Sudiro memperlihatkan akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa yang kental.

Sementara di Singkawang dan Palembang, organisasi kemasyarakatan lintas agama turut serta memastikan kelancaran acara Imlek. "Jadi selalu saya ingatkan bahwa Imlek bukan sekadar untuk merayakan pergantian tahun dalam penanggalan Lunar, melainkan untuk merayakan kekayaan identitas bangsa Indonesia.

Bagi kami di PITI, Imlek adalah momentum refleksi budaya yang selaras dengan nilai-nilai spiritual. “Saya juga kerap mengingatkan bahwa menjadi Tionghoa adalah takdir dan menjadi Indonesia adalah komitmen kebangsaan yang final,” katanya.

Mari kita menunjukkan bahwa persatuan dan toleransi bukan sekadar slogan, melainkan praktik hidup sehari-hari. Mari kita jadikan momentum ini untuk mempererat silaturahmi, memperkuat ekonomi umat, dan bersama-sama melangkah menuju Indonesia yang lebih harmonis, adil, dan sejahtera,” ucap Serian.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....