MUI Ajak Umat Islam Hormati Perbedaan Awal Ramadan

  • 18 Feb 2026 15:14 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Iskandar meminta umat Islam menghormati kemungkinan perbedaan penetapan awal Ramadan. Ia menilai perbedaan amaliyah ubudiyah di Indonesia wajar karena banyaknya organisasi kemasyarakatan Islam.

“Kemungkinan ada yang memulai puasa dan mengakhiri puasa berbeda, jadi keniscayaan yang harus kita pahami, maklumi. Tapi paling penting keutuhan sebagai umat Islam senantiasa kita jaga,” kata Anwar dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu, 18 Februari 2026.

Ia menjelaskan Indonesia sebagai bangsa demokratis harus terbiasa dengan perbedaan pandangan. Perbedaan diperbolehkan selama tidak menyangkut prinsip dasar akidah.

Menurutnya, dinamika penetapan awal Ramadan merupakan bagian dari khazanah keilmuan Islam yang patut dihormati. "Perbedaan yang bisa dikelola dengan baik akan melahirkan harmoni, indah, sesuatu yang penting bagi persatuan Indonesia," ucapnya.

Anwar menekankan pentingnya persatuan demi menciptakan stabilitas nasional. Stabilitas tersebut dinilai memungkinkan pemerintah dan masyarakat bekerja lebih optimal membangun masa depan Indonesia.

Ia juga mengajak umat Islam menyempurnakan ibadah Ramadan agar melahirkan pribadi dengan kualitas iman dan takwa lebih baik. Ajakan tersebut sekaligus menjadi penguat spiritual di tengah perbedaan penetapan awal puasa.

"MUI mengajak semuanya untuk berusaha sekuat-kuatnya menyempurnakan ibadah sebulan ini. Sehingga akan melahirkan insan yang sempurna, paripurna, derajat tinggi, kualitas iman dan takwa kepada Allah SWT," ujar Anwar.

Pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Penetapan diumumkan Menteri Agama Nasaruddin Umar usai Sidang Isbat di Hotel Borobudur Jakarta, Selasa, 17 Februari 2026.

Penetapan tersebut didasarkan hasil hisab dan rukyat di puluhan titik pengamatan nasional. Secara astronomis, posisi hilal belum memenuhi kriteria visibilitas MABIMS.

Di sisi lain, PP Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan lebih dahulu, yakni Rabu, 18 Februari 2026. Penentuan menggunakan metode hisab hakiki dengan pendekatan Kalender Hijriah Global Tunggal.

Muhammadiyah menyatakan setelah pukul 24.00 UTC terdapat wilayah di Amerika yang memenuhi syarat visibilitas hilal. Berdasarkan prinsip kesatuan matlak global, awal Ramadan ditetapkan serentak pada tanggal tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....