Ikhtiar Swasembada, DME Solusi Kurangi Ketergantungan Impor LPG

  • 13 Feb 2026 15:53 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta- Pemerintah terus mematangkan hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME). Langkah strategis ini menjadi game changer untuk menutup gap kebutuhan Liquid Petroleum Gas (LPG) yang volume kebutuhannya terus membengkak.

Proyek tersebut masuk dalam 18 proyek hilirisasi prioritas yang dijalankan oleh BPI Danantara bersama Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menjelaskan proyek yang bakal dioperasikan di wilayah Tanjung Enim, Sumatera Selatan, ini bakal mendatangkan multiplier effect positif.

"Batu bara yang akan diolah sekitar 6 juta ton per tahun yang akan menghasilkan 1,4 juta ton DME per tahun, dengan potensi tersebut. Ini akan berpotensi mengurangi impor LPG sekitar 1 juta ton per tahun, yang berarti kita akan bisa menghemat devisa negara sekitar Rp9,7 triliun per tahun," ucapnya dalam acara Launching Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026 di Kantor Ditjen EBTKE KESDM, Jakarta, Selasa, 10 Februari 2026.

Tak hanya soal substitusi impor, proyek ini juga bakal menjadi magnet investasi dengan estimasi mencapai USD 2,1 miliar. "Tentu ini merupakan kontribusi kita untuk mendorong pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan," kata Yuliot.

Sementara itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengungkapkan urgensi proyek ini didasari oleh profil konsumsi energi nasional yang belum sepenuhnya mandiri. Saat ini, kebutuhan LPG domestik telah menyentuh angka 8 juta ton per tahun, namun lebih dari 75 persen pasokan masih bergantung pada pasar luar negeri.

Tri menilai utilisasi batu bara kalori rendah (low-rank coal) menjadi DME adalah langkah paling strategis. Untuk mengonversi kekayaan sumber daya alam domestik menjadi energi siap pakai.

"Kita masih melakukan impor (LPG) sebesar 6 koma sekian juta ton per tahun. Ini diharapkan dengan adanya DME dapat mensubstitusi atau mengganti daripada LPG tersebut," kata tri.

Di lain sisi, Danantara selaku orkestrator memastikan tidak akan gegabah dalam mengeksekusi proyek strategis nasional tersebut. Fokus utama saat ini tertuju pada validasi teknologi guna menjamin nilai keekonomian proyek di wilayah tambang PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria menegaskan penentuan teknologi merupakan variabel kunci dalam menentukan harga jual gas hasil olahan batu bara tersebut. Hal ini krusial agar DME mampu bersaing dengan LPG di level konsumen.

"Kita akan melakukan kajian yang sangat detail kita sedang menentukan teknologi yang akan kita pakai," ujar Dony di sela acara Groundbreaking 6 Proyek Hilirisasi di Jakarta, Jumat, 6 Februari 2026. Dony menjabarkan pemilihan teknologi bukan sekadar soal teknis operasional, melainkan strategi untuk memastikan daya serap pasar tetap terjaga melalui harga kompetitif.

"Tentunya teknologi yang akan kita pakai akan menentukan output-nya juga kompetitif. Kita tidak mau nanti output gas-nya itu tidak kompetitif yang akhirnya tidak diserap oleh pasar," kata dia.

Meski masih dalam tahap kajian mendalam, Danantara mengisyaratkan adanya akselerasi proyek. Dony menargetkan seremoni peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek pengganti LPG ini dapat diumumkan segera.

"InsyaAllah mudah-mudahan yang DME akan segera kita announce. Dalam satu dua bulan ini mengenai ground breaking untuk DME di Bukit Asam," ucap Dony.

Sementara, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mematok langkah konkret dalam mendukung hilirisasi batu bara.

Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto, mengatakan perusahaan sudah menyiapkan pasokan batu bara dengan volume 800 juta ton, termasuk salah satunya DME.

"Kami lock 800 juta ton itu di Sumatera Selatan dan di Riau. Ini khusus hilirisasi. Jadi dari sisi suplai bahan baku sudah ready, nih,” kata Turino dalam Hipmi-Danantara Indonesia Business Forum 2025, di Jakarta, Senin, 20 Oktober 2025.

Sejalan dengan instruksi pemerintah, Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID bersama PT Pertamina (Persero) resmi menandatangani kerja sama percepatan hilirisasi batu bara menjadi DME. Termasuk produk energi alternatif lainnya seperti Synthetic Natural Gas (SNG), dan Methanol pada 9 Januari 2026 lalu.

Melalui kerja sama ini MIND ID berkomitmen mendorong hilirisasi yang memberikan nilai tambah ekonomi, mengurangi ketergantungan impor, meningkatkan daya saing. Juga membuka lapangan kerja baru, serta memperkuat ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.

Di lain sisi, Pertamina dengan jaringan distribusi yang dimiliki siap menyokong penyaluran hilir dari produk hilirisasi tersebut. Sehingga dapat terserap dan tersalurkan secara efektif kepada masyarakat dan sektor industri di tanah air.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....