Menko Pratikno Dorong Penguatan Komando Terpadu Basarnas
- 13 Feb 2026 08:12 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mendorong penguatan sistem komando SAR nasional. Hal ini dilakukan demi memastikan setiap detik krusial mampu menyelamatkan lebih banyak nyawa.
Menurut Pratikno, penguatan Basarnas tidak cukup hanya menambah alat dan personel, tetapi memperkuat sistem komando. Pasalnya, penguatan syaraf komando dinilai krusial supaya setiap operasi penyelamatan berjalan cepat, tepat, dan terintegrasi.
“Ini bukan hanya mencari, tapi yang paling utama adalah menyelamatkan, penyelamatan itu mengenal golden hour. Detik keputusan diambil, detik itu pula seluruh infrastruktur harus bergerak,” kata Pratikno dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat, 13 Februari 2026.
Pratikno menyoroti luasnya wilayah tanggung jawab SAR Indonesia yang diiringi meningkatnya risiko bencana dan kecelakaan akibat perubahan iklim. Kondisi tersebut, kata Pratikno, menimbulkan kesenjangan antara potensi risiko dan kapasitas respons yang ada saat ini.
“Gap antara potensi risiko dan kemampuan respons inilah yang harus kita pikirkan bersama dan masyarakat sekarang tidak punya toleransi terhadap kelambanan. Pemerintah bukan hanya dituntut hadir, tapi harus hadir cepat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Pratikno menjelaskan dua alternatif penguatan sistem SAR nasional. Alternatif pertama menitikberatkan penambahan alat utama dan personel, namun memerlukan anggaran besar dan waktu.
“Alternatif kedua, yang dinilai bisa segera dijalankan, adalah penguatan kewenangan dan integrasi lintas institusi melalui satu sistem komando terpadu. Ini bukan soal menambah otot, tetapi memperbesar kapasitas otak dan syaraf komandonya,” kata Pratikno.
Ia mengusulkan pembentukan Pusat Komando Reaksi Cepat SAR Nasional dengan konsep satu ruang, satu data, dan satu komando dalam kondisi darurat. Dalam skema itu, Basarnas dapat langsung menggerakkan TNI, Polri, dan kementerian tanpa birokrasi berbelit.
“Begitu channel berubah ke SAR, mekanisme komando ikut berubah dan prosedur dipangkas demi menyelamatkan manusia. Kita menyelamatkan tidak mengenal seragam dan tidak mengenal profesi,” ucap Pratikno menegaskan.
Sementara itu, Basarnas tengah mengevaluasi total operasi SAR menyusul sorotan respons awal yang dinilai belum optimal. Kepala Basarnas Mohammad Syafii menegaskan seluruh personel mampu menjalankan operasi SAR, termasuk penugasan luar negeri.
“Keterlambatan umumnya disebabkan jarak jangkauan wilayah kerja yang luas, dimana satu kantor Basarnas dapat mencakup hingga 33 kabupaten. Sehingga waktu tempuh menuju lokasi terjauh menjadi tantangan tersendiri,” kata Mohammad Syafii.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....