Pakar UGM: Pengelolaan Sampah Harus Dibenahi Menyeluruh
- 11 Feb 2026 23:11 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta – Pakar Lingkungan Universitas Gadjah Mada, Prof. Chandra Wahyu Purnomo menilai pengelolaan sampah nasional masih tertinggal. Ia menyebut, pembenahan harus dilakukan menyeluruh dan tidak cukup hanya langkah kuratif semata.
“Semua pihak harus bergerak, tidak hanya pemerintah daerah yang merelokasi anggaran prioritas. Masyarakat dan LSM juga perlu terlibat karena sistem harus diperbaiki secara komprehensif,” ujarnya dalam dialog bersama PRO3 RRI, Jakarta, Rabu, 11 Februari 2026.
Menurutnya, gerakan anak muda seperti Pandawara efektif membangun kesadaran publik lewat media sosial. Namun ia melihat relawan kerap kelelahan karena sampah kembali menumpuk setelah dibersihkan.
“Kalau hanya dibersihkan lalu beberapa hari kemudian kotor lagi, itu hanya kuratif. Tanpa penegakan aturan dan pembenahan sistem, kita tidak akan naik kelas,” katanya.
Chandra menilai kondisi tempat pembuangan akhir masih tertinggal dibanding infrastruktur nasional lainnya. Ia menyebut pengelolaan sampah belum mencerminkan negara maju meski bandara sudah bertaraf internasional.
“Pengelolaan sampah kita masih sangat terbelakang dan teknologinya baru mulai dikembangkan. Sistem serta penegakan aturan harus diperbaiki supaya tidak terus tertinggal,” ucapnya.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyampaikan percepatan teknologi pengolahan sampah mikro. Ia menyebut arahan tersebut disampaikan Presiden dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan.
“Beberapa teknologi pengolahan sampah skala mikro yang dikembangkan kampus diminta Presiden untuk dipercepat. Teknologi itu akan segera dipilih dan diujicoba agar diterapkan lebih luas,” ujarnya.
Brian menjelaskan teknologi tersebut berjalan bersama proyek ‘waste to energy’ yang digarap Danantara. Ia menilai pengolahan di tingkat kelurahan dapat menekan mobilitas sampah menuju tempat pembuangan akhir.
“Ada teknologi yang akan berjalan bersama Danantara dan difokuskan di tingkat kelurahan. Targetnya setiap desa mampu mengolah sekitar 10 ton sampah per hari,” katanya.
Dalam hal itu, ia berharap percepatan teknologi dapat berjalan beriringan dengan pembenahan sistem. Ia menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar persoalan sampah tidak terus berulang setiap tahun.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....