Pemerintah Siap Kirim Pasukan Perdamaian Gaza
- 10 Feb 2026 19:24 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta-Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan persiapan Indonesia yang akan mengirim pasukan perdamaian ke Gaza, Palestina. Menteri Prasetyo mengakui belum ditentukan lokasi penempatan pasukan karena masih dibahas termasuk kesepakatan internasional.
‘Kita baru mempersiapkan diri saja. Kalau sewaktu-waktu sudah tercapai kesepakatan, dan harus mengirimkan pasukan perdamaian, tentu kita akan lakukan,” kata Menteri Prasetyo Hadi kepada wartawan di Jakarta, Selasa, 10 Februari 2026.
Menteri Prasetyo menegaskan pengiriman pasukan perdamaian merupakan komitmen Indonesia di Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP). Dewan Perdamaian digagas oleh Presiden Amerika Donald Trump, yang ditandatangani sejumlah Kepala Negara di Davos, Swiss.
Partisipasi Indonesia dan tujuh negara muslim lainnya di BoP merupakan upaya realistias untuk mendorong Palestina Merdeka. Adapun tujuh negara muslim tersebut yakni Turki, Mesir, Yordania, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
“Berkenaan dengan masalah BOP beserta dengan seluruh turunan teknisnya itu kan bagian dari komitmen bangsa kita. Komitmen tentu kita menghendaki pengakuan kemerdekaan kepada bangsa Palestina,”ujarnya.
“Bagaimana kita melakukan upaya untuk bisa membantu masyarakat di Gaza, makanya Indonesia beserta dengan tujuh negara muslim yang lain memutuskan untuk bergabung di BOP tersebut. Setidaknya itu kita berharap akan mengurangi eskalasi konflik yang terjadi sehingga berkurang penderitaannya,” katanya.
Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak menyiapkan tentaranya. TNI Angkatan Darat terus berlatih dan kesiapan teknis lain terutama untuk kesehatan.
“Kita sudah mulai berlatih orang-orang yang kemungkinan kan kita nanti kan jadi perdamaian. Kalau kami hanya penyiapan pasukannya saja,” kata Maruli di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 9 Februari 2026.
Ia belum memastikan jumlah pasukan yang akan dikirim ke Palestina termasuk waktu keberangkatan. Jumlah pasukan bersifat fluktuatif tergantung dinamika di lapangan.
“Satu brigade lima ribu, delapan ribu mungkin tapi masih bernego semua, belum pasti. Jadi tidak ada kepastian angka sampai sekarang,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....