Psikolog Soroti Faktor Bunuh Diri Anak

  • 07 Feb 2026 00:18 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Dosen Psikologi, Dr Imaduddin Hamzah mengatakan, fenomena bunuh diri anak yang menyita perhatian masyarakat belakangan ini nasional. Diakuinya, kasus seperti anak SD di NTT adalah peristiwa yang jarang terjadi.

Di negara-negara maju, rata-rata pelaku bunuh diri ada di usia remaja ataupun usia dewasa awal, karena mereka sudah bisa mempersepsi tantangan kesulitan hidup sebagai sesuatu yang berat. Sehingga bunuh diri adalah pilihan yang paling baik menurut persepsi mereka.

"Misalkan artis yang bunuh diri atau seorang karyawan yang bunuh diri. Bahkan, seorang remaja yang prestasi sekolahnya jelek lalu bunuh diri," kata Imaduddin kepada PRO3 RRI, di Jakarta, Sabtu, 7 Februari 2026.

Namun untuk anak, menurutnya, ini adalah kesalahan kita semua artinya, bahwa anak bunuh diri bukan sebuah pilihan rasional. Namun akibat dihadapkan pada situasi yang tidak mampu dan tidak memiliki solusi lain, serta tidak mendapatkan pendampingan untuk mencari solusinya.

"Karena kalau untuk anak, dia sendiri masih sulit menghadapi masalah-masalah dirinya. Dia sangat butuh bantuan dari orang dewasa," katanya.

Ia mengatakan, ekosistem pendidikan harus memastikan standar sekolah tidak menciptakan tekanan psikologis bagi siswa rentan. “Ketika standar menjadi tekanan, anak merasa malu dan gagal memenuhi harapan lingkungan,” ujarnya.

Selain itu, kondisi keluarga korban mencerminkan persoalan struktural terkait pendataan bantuan sosial pemerintah belum akurat. Ia memandang tekanan ekonomi berkepanjangan berpotensi menumbuhkan keputusasaan hingga memicu keputusan ekstrem pada anak dalam situasi rapuh.

Ia menggarisbawahi kolaborasi lintas lembaga diperlukan memperkuat mitigasi berjenjang demi perlindungan anak berkelanjutan nasional. Ia menutup pembahasan dengan menekankan asesmen cepat serta intervensi tepat sasaran diperlukan mencegah kejadian serupa berulang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....