Mendag Pastikan Pasokan Minyak Goreng Nasional Aman

  • 06 Feb 2026 13:39 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memastikan ketersediaan pasokan minyak goreng nasional berada pada level yang sangat aman. Budi menyatakan, stok minyak goreng di pasar domestik sebenarnya tersedia dalam jumlah melimpah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Mendag meminta publik tidak terpaku hanya pada satu merek subsidi sebagai tolok ukur utama kestabilan harga. Penegasan ini bertujuan untuk meluruskan narasi kelangkaan yang sering muncul ketika ketersediaan produk tertentu mengalami penyesuaian distribusi.

"Kemarin kami juga mengecek ke perusahaan untuk melihat ketersediaan Minyakita dan saya kira tidak ada masalah. Perusahaan menyampaikan sebenarnya tidak hanya sekarang, dari kemarin-kemarin minyak goreng kita itu sebenarnya berlimpah di pasar," ujar Budi di Jakarta, Jumat, 6 Februari 2026.

Mendag menjelaskan, MinyaKita merupakan instrumen intervensi pasar melalui kebijakan Domestic Market Obligation (DMO/kewajiban pasar domestik). Ketersediaan merek ini sangat bergantung pada aktivitas ekspor yang dilakukan oleh para produsen minyak goreng nasional.

Jika volume ekspor mengalami penurunan, maka secara otomatis pasokan MinyaKita di pasar juga akan mengalami penyesuaian jumlah. Kondisi ini seringkali disalahartikan oleh masyarakat sebagai bentuk kelangkaan minyak goreng secara menyeluruh di berbagai daerah.

"Padahal minyak kita ini adalah minyak DMO, artinya kalau kita ekspor, produsen ekspor maka harus DMO berupa Minyakita. Kalau ekspornya turun, berarti DMO-nya juga turun," kata Budi.

Mendag mendorong produsen untuk memperbanyak produksi minyak goreng kategori second brand di pasar-pasar tradisional. Produk kategori ini memiliki kualitas yang setara dengan Minyakita namun tersedia dalam berbagai pilihan ukuran kemasan.

Kehadiran banyak merek alternatif diharapkan mampu memberikan lebih banyak pilihan bagi masyarakat untuk menjangkau produk yang terjangkau. Hal ini juga berfungsi untuk memecah ketergantungan publik terhadap satu indikator harga tunggal yang diatur pemerintah.

"Nah ini yang kami minta kemudian kepada produsen, tolong membuat banyak minyak second brand. Second brand itu yang selevel dengan minyak kita sehingga masyarakat lebih banyak menjangkau minyak-minyak dengan kualitas bagus dan harga yang terjangkau," ucap Budi.

Budi menambahkan bahwa harga rata-rata minyak goreng saat ini telah mengalami penurunan menjadi kisaran Rp16.200 per liter. Data pantauan harga harian ini dapat diakses secara terbuka oleh seluruh elemen masyarakat melalui sistem informasi digital resmi Kementerian Perdagangan.

Pemerintah menyiagakan sekitar 550 kontributor untuk melakukan pembaruan data harga pasar setiap hari secara aktual. Transparansi data ini menjadi kunci utama bagi Kementerian Perdagangan (Kemendag) dalam melakukan pengawasan distribusi barang pokok.

"Kalau kita lihat grafiknya, rata-rata kemarin kan Rp6.800, ya harganya sekarang sudah Rp6.200. Ini mudah-mudahan bisa turun terus, yang sebelumnya Rp16.800, sekarang sudah turun menjadi Rp16.200," ucap Budi.

Selain memantau harga, Kemendag juga meningkatkan peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam proses penyaluran minyak goreng. BUMN pangan kini diberikan porsi sebesar 35 persen untuk mendistribusikan Minyakita ke seluruh wilayah Indonesia.

"Kita sudah mengeluarkan permendag nomor 43 ya. Nomor 3 di mana peran BUMN ini menjadi lebih besar, peran BUMN pangan dengan kita beri 35 persen penyaluran minyak kita dilakukan oleh BUMN," ujar Budi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....