Bapanas: El Nino Tak Ganggu Ketahanan Pangan Nasional

  • 21 Jul 2026 22:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Bapanas memastikan fenomena El Nino tidak akan mengganggu ketahanan pangan nasional
  • Pemerintah memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga
  • Masyarakat diminta tidak khawatir dan petani didorong tetap menanam meski ada prediksi El Nino
  • Stok pangan nasional dinilai aman, termasuk beras, jagung, gula, minyak goreng, dan daging ayam
  • FAO memproyeksikan produksi beras Indonesia mencapai sekitar 38 juta ton pada 2026

RRI.CO.ID, Brebes – Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman memastikan pemerintah siap menghadapi potensi fenomena El Nino dengan memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah (CPP). Masyarakat diminta tidak khawatir karena stok pangan nasional dinilai dalam kondisi aman.

Amran mengatakan pemerintah telah mengantisipasi potensi El Nino sejak beberapa bulan terakhir. Penguatan stok pangan dilakukan sebagai langkah mitigasi agar pasokan dan stabilitas harga pangan tetap terjaga.

"Sekarang alhamdulillah, ini atas arahan Bapak Presiden. Kemarin kita kejar-kejaran El Nino," katanya.

" Tidak usah khawatir. El Nino yang dulu lebih dahsyat daripada sekarang," kata Amran di Brebes, Jawa Tengah, dikutip Selasa 21 Juli 2026.

Ia juga mengingatkan agar prediksi El Nino tidak disampaikan secara berlebihan karena dapat memengaruhi psikologis petani. Menurutnya, informasi yang tidak tepat berpotensi membuat petani menunda musim tanam.

"Saya sering katakan hati-hati (prediksinya). Ini ada El Nino Godzilla, bulan empat, ternyata banjir," ucapnya.

Amran menjelaskan stok Cadangan Pangan Pemerintah saat ini tidak hanya berupa beras. Per 20 Juli 2026, stok beras di Perum Bulog mencapai 5,24 juta ton, sementara Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) tercatat 7,35 ribu ton di tingkat provinsi dan 13,15 ribu ton di tingkat kabupaten/kota yang tersebar di 323 daerah.

Selain itu, pemerintah memiliki stok jagung pakan sebanyak 176 ribu ton yang terus disalurkan kepada peternak unggas melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Cadangan pangan juga diperkuat dengan sekitar 1.000 kiloliter minyak goreng, 2,79 ribu ton gula konsumsi, serta 38 ton daging ayam.

Untuk komoditas yang mudah rusak seperti cabai, bawang merah, dan telur ayam ras, Amran mengatakan kebutuhan masyarakat ditopang oleh produksi dalam negeri yang masih surplus sehingga pasokan tetap terjaga.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), hingga pekan ketiga Juli 2026 hanya empat provinsi yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH), sedangkan 34 provinsi mengalami penurunan. Di tingkat kabupaten dan kota, sebanyak 69 daerah mengalami kenaikan IPH dan 283 daerah mengalami penurunan.

Amran menambahkan pemerintah telah berhasil mencapai swasembada pangan lebih cepat dari target. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil percepatan program yang dijalankan pemerintah.

"Kita sudah swasembada. Bapak Presiden minta kita sudah swasembada, rencana empat tahun, tapi alhamdulillah kita capai dalam waktu satu tahun," katanya.

Ia juga menyebut capaian Indonesia mendapat pengakuan dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO). Dalam laporan Food Outlook edisi Juni 2026, FAO memproyeksikan produksi beras Indonesia mencapai sekitar 38 juta ton pada 2026, menjadikan Indonesia produsen beras terbesar di Asia Tenggara dan peringkat keempat dunia setelah India, Tiongkok, dan Bangladesh.

Menurut laporan FAO, hanya Tiongkok dan Indonesia yang diproyeksikan mengalami peningkatan produksi beras di antara empat produsen terbesar dunia. Di sisi lain, harga beras dunia masih menunjukkan tren kenaikan akibat tingginya permintaan dan terbatasnya pasokan di sejumlah negara pengekspor.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....