Komisi VIII Soroti Perlindungan Anak yang Masih Rentan

  • 05 Feb 2026 03:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota Komisi VIII DPR RI, Mahdalena menyoroti, perlindungan sosial anak masih rentan akibat sejumlah faktor. Yakni, mulai dari data penerima bantuan yang belum sepenuhnya akurat hingga lemahnya koordinasi antar kementerian dan pemerintah daerah. 

Pernyataan tegas politikus PKB ini, sekaligus merespons kasus bunuh diri siswa SD di NTT karena tidak mampu membeli buku. Menurutnya, pendekatan bantuan hingga kini belum menyentuh kebutuhan paling mendasar anak-anak miskin. 

"Akibatnya, banyak anak yang tercecer dari sistem. Hidup dalam tekanan ekonomi dan psikologis tanpa pendampingan memadai," kata Mahdalena dalam keterangan persnya, di Jakarta, Kamis, 5 Februari 2026. 

Mahdalena mendorong, pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program perlindungan sosial anak. Termasuk, memastikan bantuan pendidikan benar-benar menjangkau anak-anak dari keluarga tidak mampu. 

"Terutama masyarakat di daerah tertinggal dan terluar. Negara harus memperkuat layanan pendampingan psikososial di sekolah dan komunitas agar tekanan yang dialami anak terdeteksi dini," ucap Mahdalena. 

Ke depannya, ia menekankan, pemerintah dan stakeholder terkait tidak boleh menunggu tragedi baru bergerak. Karena, perlindungan sosial anak harus bersifat preventif, bukan reaktif. 

"Jangan biarkan anak-anak kita menjadi korban ketidakadilan sosial hingga kehilangan masa depan dan harapan hidup. Sedih dan menyakitkan jika ada anak-anak yang justru tumbang karena sistem tidak berpihak," ujar Mahdalena. 

Sebelumnya, Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa menjelaskan, pada malam sebelum kejadian, korban berinisial YBR (10) minta uang kepada ibunya. Korban meminta untuk dibelika buku tulis dan pulpen. 

Namun sayang, kata Dion, permintaan itu tidak bisa dipenuhi ibunya karena kondisi ekonominya yang susah. Dion menuturkan, korban sehari-hari tinggal bersama neneknya. 

Rumah nenek dan ibunya berada di desa tetangga. Malam sebelum kejadian, YBR menginap di rumah ibunya untuk meminta uang tersebut. 

"Menurut pengakuan ibunya permintaan itu korban minta (uang beli buku tulis dan pulpen) sebelum meninggal. Hidupnya (ibu korban) susah," kata Dion dalam keterangannya kepada wartawan, di NTT, Selasa 3 Februari 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....