Indonesia Perkuat Ketersediaan Cadangan Minyak Hadapi Dampak Perang Dunia Ketiga

  • 03 Feb 2026 15:47 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Indonesia perlu mengambil langkah yang tepat dalam mempersiapkan diri menghadapi potensi dampak global Perang Dunia Ketiga. Salah satu sektor strategis yang perlu diantisipasi adalah ketersediaan energi dan minyak nasional.

Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro, mengatakan dampak konflik global memang tidak selalu dirasakan secara langsung oleh Indonesia. Namun, keterkaitan ekonomi global membuat risiko tersebut tidak bisa diabaikan.

"Kalau dampaknya, kemungkinan memang tidak langsung, tetapi ekonomi global saat ini sudah saling terkoneksi satu sama lain. Rantai pasok (supply chain) sudah saling terkait, sehingga dampaknya bukan hanya pada sektor energi," katanya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Selasa, 3 Februari 2026.

Ia menjelaskan, posisi Indonesia yang saat ini masih sebagai negara net importer, terutama untuk minyak, menjadi faktor kerentanan. Dari konsumsi minyak nasional 1,6 juta barel per hari, produksi dalam negeri hanya sekitar 500 ribu barel per hari.

Menurut Komaidi, sebagian jalur distribusi impor minyak Indonesia melewati kawasan strategis di Timur Tengah, termasuk wilayah sekitar Iran. Oleh karena itu, eskalasi konflik di kawasan tersebut berpotensi mengganggu pasokan energi global.

"Kalau eskalasinya sampai ke Iran, ini tentu berisiko. Karena dalam beberapa waktu terakhir, Presiden Amerika Donald Trump menyatakan akan memberikan tindakan secara langsung ke Iran," ucapnya. 

Menanggapi hal itu, ia menjelaskan bahwa peningkatan produksi minyak dalam negeri bukanlah hal yang bisa dilakukan dalam jangka pendek. Ia menyebut, hasil eksplorasi baru umumnya baru dapat diproduksikan secara komersial dalam waktu empat hingga lima tahun ke depan.

"Kalau bicara jangka pendek, apalagi dalam satu tahun anggaran APBN tertentu, itu cukup sulit. Yang bisa dioptimalkan saat ini adalah meningkatkan produksi dari lapangan-lapangan minyak yang sudah ada (existing)," ujarnya. 

Sebelumnya, kekhawatiran ini terjadi usai pidato dari Presiden Prabowo Subianto tentang banyaknya toko dunia yang khawatir dengan PD III. Menurut dia, Indonesia akan terkena dampaknya meskipun tak terlibat dalam Perang Dunia Ketiga.

"Saya baru pulang dari Eropa, saya ketemu tokoh-tokoh dunia, saya hadir di Davos. Puluhan kepala negara hadir, hampir semua merisaukan pecahnya Perang Dunia Ketiga," katanya saat Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Jawa Barat, Senin, 2 Februari 2026.

Dia menuturkan ada ancaman perang nuklir apabila Perang Dunia Ketiga pecah. Ia menyebut apabila hal ini terjadi, Indonesia akan terkena partikel radioaktif yang membuat ikan-ikan menjadi terkontaminasi.

Tak hanya itu, ia mengungkapkan potensi terjadinya nuclear winter di mana debu-debu akibat perang nuklir. Hal ini membuat matahari tak terlihat selama bertahun-tahun, seperti musim dingin atau winter.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....