Kementerian PPPA: Perempuan Kunci Sukses Program MBG

  • 03 Feb 2026 07:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menegaskan perempuan menjadi kunci kesuksesan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pasalnya, perempuan menjadi kunci utama penentu kualitas gizi anak karena berperan langsung mengatur kebutuhan pangan keluarga.

“Terkait penguatan perempuan dan anak dalam program MBG, fokus utama kami adalah meningkatkan pemahaman perempuan sebagai manajer dalam keluarga. Khususnya dalam pemenuhan gizi berbasis kearifan lokal,” kata Menteri PPPA Arifah Fauzi dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa, 3 Februari 2026. 

Menurut Arifah, setiap daerah memiliki potensi pangan berbeda sehingga menu MBG harus disesuaikan dengan bahan pangan lokal, bukan bergantung pada pasokan luar. Arifah menyoroti tingginya kematian ibu dan bayi serta terbatasnya layanan kesehatan yang masih membayangi perempuan anak.

“Karena itu, perhatian terhadap kelompok ini menjadi prioritas nasional sekaligus bagian dari komitmen global. Untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga, kami mendorong pemanfaatan pekarangan rumah untuk menanam cabai, sayur, dan bahan pangan harian,” ucap Arifah menegaskan. 

Ia berharap hasil kebun warga mampu memasok kebutuhan gizi SPPG desa sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal. Pemerintah berencana memperbanyak SPPG desa agar kebutuhan pangan warga terpenuhi mandiri tanpa bergantung pasokan luar.

Tenaga Ahli Badan Gizi Nasional (BGN) Florencio Mario Vieira menyebut BGN merancang ekosistem pangan menyeluruh dari produksi hingga distribusi demi ketahanan gizi nasional. Ia menyebut  hampir 21 ribu SPPG aglomerasi dan 8.670 terpencil diproses, memperluas akses layanan gizi hingga pelosok.

“Hingga hari ini terdapat hampir 21.000 SPPG aglomerasi dan 8.670 SPPG terpencil yang sedang dalam proses. Tantangan terbesar adalah rantai pasok, karena kualitas dan kesegaran pangan sangat penting agar tidak menimbulkan risiko kesehatan,” kata Mario.

Ia menekankan, MBG juga berdampak langsung pada pemberdayaan ekonomi perempuan. Sekitar 90 persen tenaga kerja di SPPG adalah perempuan, atau lebih dari satu juta orang terlibat dalam ekosistem tersebut.

“Dampaknya sangat terasa, termasuk perubahan peran dalam rumah tangga. Namun ada tantangan sosial seperti kecemburuan dan resistensi, sehingga perlu edukasi sosial dan penguatan relasi keluarga,” ucap Mario menjelaskan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....